SELAMAT DATANG DI PPA&K VIRTUAL CLASS

Media peningkatan kompetensi secara online di bidang Audit Internal, Audit Forensik, Manajemen Risiko, Good Corporate Governance, Akuntansi, Keuangan dan Perpajakan.

Materi diklat dikembangkan spesifik dan aplikatif untuk menjawab tuntutan kebutuhan saat ini dan masa depan. Model pembelajaran dirancang melibatkan serangkaian proses yang mendorong setiap peserta berbagi pengetahuan, keterampilan nilai-nilai dan pengalaman dengan dipandu oleh fasilitator yang profesional dan berpengalaman.

Daftar Diklat

No Nama Diklat Biaya Waktu Pelaksanaan
1

Diklat Dasar-Dasar Audit (Oktober 2022)

IDR 6.500.000,00 03 Oct 2022 - 12 Oct 2022
2

Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit (Oktober 2022)

IDR 7.000.000,00 03 Oct 2022 - 11 Oct 2022
3

Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas Audit (Oktober 2022)

IDR 10.250.000,00 03 Oct 2022 - 12 Oct 2022
4

Diklat Audit Forensik Dasar (Oktober 2022)

IDR 9.250.000,00 03 Oct 2022 - 06 Oct 2022
5

Diklat Audit Forensik Lanjutan (Oktober 2022)

IDR 10.250.000,00 03 Oct 2022 - 07 Oct 2022
6

Diklat Program Gelar CFrA (Oktober 2022)

IDR 20.500.000,00 03 Oct 2022 - 17 Oct 2022
7

Certified Governance Professional (Oktober 2022)

IDR 10.800.000,00 03 Oct 2022 - 07 Oct 2022
8

Qualified Risk Management Analyst (Oktober 2022)

IDR 8.100.000,00 03 Oct 2022 - 07 Oct 2022
9

Qualified Chief Risk Officer (Oktober 2022)

IDR 10.300.000,00 03 Oct 2022 - 06 Oct 2022
10

Diklat Audit Rumah Sakit (Oktober 2022)

IDR 6.250.000,00 03 Oct 2022 - 06 Oct 2022
11

Diklat Audit SDM (Oktober 2022)

IDR 5.750.000,00 03 Oct 2022 - 05 Oct 2022
12

Diklat Analisis Laporan Keuangan (Oktober 2022)

IDR 5.000.000,00 03 Oct 2022 - 06 Oct 2022
13

Diklat Analisis Kinerja Keuangan PDAM (Oktober 2022)

IDR 5.000.000,00 03 Oct 2022 - 06 Oct 2022
14

Diklat Self Assessment Internal Control (Oktober 2022)

IDR 6.500.000,00 03 Oct 2022 - 06 Oct 2022
15

Diklat Dasar-Dasar Audit (November 2022)

IDR 6.500.000,00 07 Nov 2022 - 16 Nov 2022
16

Diklat Audit Operasional (November 2022)

IDR 9.250.000,00 07 Nov 2022 - 16 Nov 2022
17

Diklat Audit Kecurangan (November 2022)

IDR 9.750.000,00 07 Nov 2022 - 11 Nov 2022
18

Diklat Khusus bagi Kepala SPI (November 2022)

IDR 12.500.000,00 07 Nov 2022 - 10 Nov 2022
19

Diklat Audit Forensik Dasar (November 2022)

IDR 9.250.000,00 07 Nov 2022 - 10 Nov 2022
20

Diklat Audit Forensik Menengah (November 2022)

IDR 9.250.000,00 07 Nov 2022 - 15 Nov 2022
21

Certified Chief Governance Officer (November 2022)

IDR 11.600.000,00 07 Nov 2022 - 10 Nov 2022
22

Qualified Risk Management Officer (November 2022)

IDR 7.800.000,00 07 Nov 2022 - 10 Nov 2022
23

Qualified Risk Management Professional (November 2022)

IDR 10.300.000,00 07 Nov 2022 - 14 Nov 2022
24

Qualified Risk Governance Professional (November 2022)

IDR 12.500.000,00 07 Nov 2022 - 10 Nov 2022
25

Diklat Audit Internal Berbasis Risiko (November 2022)

IDR 7.250.000,00 07 Nov 2022 - 11 Nov 2022
26

Diklat Penulisan Laporan Hasil Audit yang Efektif (November 2022)

IDR 6.500.000,00 07 Nov 2022 - 09 Nov 2022
27

Diklat Audit Teknologi Informasi (November 2022)

IDR 7.250.000,00 07 Nov 2022 - 11 Nov 2022
28

Diklat Probity Audit (November 2022)

IDR 5.750.000,00 07 Nov 2022 - 09 Nov 2022
29

Diklat Audit atas Laporan Keuangan (November 2022)

IDR 6.250.000,00 07 Nov 2022 - 09 Nov 2022
30

Diklat Analisis Kinerja Keuangan PDAM (November 2022)

IDR 5.000.000,00 07 Nov 2022 - 10 Nov 2022
31

Diklat Penerapan PSAK 71 dan Dampak Perpajakannya (November 2022)

IDR 4.000.000,00 07 Nov 2022 - 10 Nov 2022

News

DIKLAT KORPORASI TATAP MUKA BULAN SEPTEMBER 2022 SUDAH DIBUKA

12 Sep 2022

Korporasi merupakan suatu badan usaha yang berjalan sesuai dengan regulasi yang sah dan melibatkan berbagai pihak demi kelangsungan hidupnya. Maka untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan sebuah pelatihan khusus bagi para pegawainya agar kualitas suatu badan usaha bisa meningkat.

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) memiliki program Diklat Korporasi dengan tujuan menambah wawasan dan keterampilan peserta sehingga bisa menjadi lebih kompeten dan professional dalam menjalankan tugasnya di perusahaan. Selain dilaksanakan secara virtual, PPA&K juga menyelenggarakan Diklat Korporasi ini secara tatap muka yang rutin dilaksanakan setiap bulan.

Ada tiga Diklat Korporasi yang dibuka secara bersamaan pada 12 September 2022, antara lain Diklat Dasar-Dasar Audit, Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit dan Diklat Teknisi Akuntansi Dasar.  Waktu pelaksanaan masing – masing diklat berbeda, Diklat Dasar-Dasar Audit berlangsung pada 12 sampai 22 September 2022, Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit berlangsung pada 12 sampai 21 September 2022 dan Diklat Teknis Akuntansi Dasar yang akan dilaksanakan pada 12 sampai 18 September 2022. Sedangan untuk Diklat Analisis Laporan Keuangan akan dibuka pada 16 September 2022 dan akan berlangsung sampai 20 September 2022 di Grand Forest Hotel, Bogor.

Secara keseluruhan, Diklat Korporasi ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai instansi/perusahaan, diantaranya Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Perumda Air Minum Kota Makassar, Perum Jasa Tirta II, Perumda Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, PT BPD Lampung, PT Petrokimia Kayaku, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kota Surakarta, PT Semen Padang, PT Sinergi Perkebunan Nusantara dan PT Rumah Sakit Pelabuhan.

Bapak Supriyadi selaku Direktur Utama PPA&K menyampaikan harapan dalam sambutannya agar kegiatan Diklat Korporasi ini dapat berjalan dengan lancar dan peserta dapat menerapkan ilmu yang nantinya diperoleh ke dalam perusahaan masing - masing peserta.

“Mari Bapak dan Ibu semua kita semangat dalam menjalankan rangkaian diklat ini supaya saat kegiatan ini selesai maka akan bertambah pula sumber daya yang professional dan berkualitas,” kata Bapak Supriyadi.

Selama diklat berlangsung peserta akan dijadwalkan untuk menerima materi dari fasilitator yang berpengalaman sebagai praktisi dan akademisi di bidang audit dan keuangan. Kemudian peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengerjakan latihan soal. Diluar itu, PPA&K juga akan mengalokasikan 1 hari yang akan digunakan para peserta untuk kegiatan outing ke lokasi yang telah ditentukan, dengan tujuan penyegaran peserta ditengah mengikuti jadwal diklat yang begitu padat.

Read more

AUDITOR INSPEKTORAT PROVINSI PAPUA BARAT MENGIKUTI IN HOUSE TRAINING DASAR - DASAR AUDIT

09 Sep 2022

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) telah selesai menyelenggarakan In House Training (IHT) Dasar-Dasar Audit untuk para Auditor dari Inspektorat Provinsi Papua Barat. Pembukaan IHT telah dilakukan pada 29 Agustus 2022. Penyampaian Materi pada IHT ini disampaikan oleh fasilitator yang kredibel dan professional yaitu Bapak M. Sonhadi dan Bapak Tumpal Pakpahan, dimana keduanya merupakan praktisi dan akademisi di bidang Auditor Internal. Selain itu, mereka juga memiliki pengalaman bekerja pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

 

Penyampaian materi pada IHT ini disampaikan oleh fasilitator yang kredibel dan professional, Bapak M. Sonhadi yang memiliki pengalaman bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Bapak Tumpal Pakpahan yang berpengalaman sebagai seorang Akademisi di bidang Audit.

 

Sebelum membahas materi yang pertama, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman masing-masing perserta terhadap pengertian dasar audit, sistem pengendalian intern, teknik-teknik audit, penyusunan program kerja audit, kertas kerja audit, dan laporan hasil audit.

 

IHT Dasar-Dasar Audit berlangsung mulai tanggal 29 Agustus hingga 3 September 2022 di Grand Inna Malioboro, Yogyakarta. Selama lima hari mengikuti IHT, peserta tetap antusias untuk mendengarkan materi dari fasilitator dan aktif berdiskusi. Salah satu peserta IHT, Yohana Rante Tasak, menyampaikan besarnya antusias pesertatidak terlepas dari peran PPA&K yang telah menyelenggarakan IHT dengan baik, termasuk menghadirkan fasilitator yang benar-benar memiliki kapasitas ilmu yang luas dalam audit internal.

 

“Kami bersyukur mendapatkan fasilitator yang terbaik, yang mana fasilitator tersebut menyampaikan materi dengan sangat baik, dengan kata-kata yang mudah kami mengerti, dengan kata-kata sehari-hari, dan selalu menyelingi humor agar kami selama dikelas tidak mengantuk,” kata Yohana.

 

Harapan kedepan, Yohana ingin kembali mengikuti IHT lainnya dan PPA&K dapat menyelenggarakan kegiatan tersebut di Wilayah Papua Barat agar semakin banyak lagi peserta yang berkesempatan untuk ikut.

                                                                                                                                               

“Jika ada diklat kompetensi lainnya kami ingin ikut lagi untuk pengembangan kompetensi kami selanjutnya, menjadi auditor yang berintegritas, yang independent, yang objektif dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab,” tutupnya.

 

In House Training Dasar-Dasar Audit yang diselenggarakan oleh PPA&K merupakan pelatihan yang lakukan demi meningkatkan pemahaman dan kemampuan seorang auditor muda dalam melakukan kegiatan audit sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Setelah mengikuti dan dinyatakan lulus sebagai peserta IHT Dasar-Dasar Audit peserta bisa mengikuti diklat Audit Operasional, sebelum nantinya akan mengikuti sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk jenjang auditor melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Audit Internal (LSP-AI).

 

Read more

DIKLAT AUDIT DAN PENGELOLAAN KEUANGAN BLU BULAN AGUSTUS 2022 TELAH SELESAI

31 Aug 2022

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) telah selesai menyelenggarakan Diklat Audit dan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) yang diikuti oleh peserta yang berasal dari BUMN, BUMD/Perseroda, swasta, institusi Pendidikan dan Rumah Sakit. Kegiatan ini dilaksanakan secara tatap muka di Padjadjaran Suite Resort & Convention Hotel, Bogor, Jawa Barat, mulai pada tanggal 15 Agustus hingga 25 Agustus 2022.

 

Tak hanya satu, PPA&K membuat beberapa Diklat terselenggara bersama, diantaranya: Diklat Dasar-Dasar Audit, Diklat Audit Operasional, Diklat Audit Kecurangan, Diklat Khusus bagi Kepala Satuan Pengawas Internal (KA SPI), Diklat Penulisan Laporan Hasil Audit yang Efektif (PLHAE), dan Diklat Piutang BLU.

 

Peserta diklat turut antusias karena dibekali oleh pengajar yang berpengalaman sebagai dosen Politeknik Keuangan Negara STAN, berpengalaman sebagai auditor pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Republik Indonesia (BPKP-RI), serta para praktisi lain yang kompeten di bidang audit. Antusiasme peserta diklat ditunjukkan dengan semangatnya saat mengikuti diskusi dan pembelajaran sehingga dinyatakan lulus dengan nilai yang baik.

 

Rangkaian diklat ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan dari peserta dan diumumkannya peserta terbaik atau terfavorit selama diklat. Adanya diklat ini membuat pemahaman para peserta bertambah dan diharapkan hal itu akan diimplementasikan di instansi/perusahaan tempat para peserta bekerja.  

 

Setelah melalui rangkaian diklat, bagi peserta yang telah menyelesaikan Diklat Audit Operasional dan memenuhi syarat dilakukan uji kompetensi Auditor Internal 1 (Muda) sedangkan peserta yang telah menyelesaikan Diklat Audit Kecurangan dan memenuhi syarat dilakukan uji kompetensi Auditor Internal 2 (Madya). Bagi peserta yang telah menyelesaikan Diklat Khusus bagi Kepala Satuan Pengawas Internal (KA SPI) dilakukan uji kompetensi Pengelolaan Satuan Pengawas Internal. Masing-masing uji kompetensi tersebut dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Internal (LSPAI).

 

Read more

KINERJA (PERFORMANCE)

21 Aug 2022

KERANGKA KOMPETENSI AUDITOR INTERNAL 2

KINERJA (PERFORMANCE)

Auditor Internal merupakan profesi yang memberikan kontribusi melalui pemberian keyakinan yang memadai (asurans) atas informasi yang diterima Direksi serta memberikan layanan jasa konsutansi kepada mitra dalam organisasi ketika membutuhkan dalam kerangka untuk peningkatan pengelolaan serta memberikan nilai tambah. Kemampuan auditor menjalankan perannya ini akan sangat berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Dengan melaksanakan pekerjaan sebagai auditor dengan menerapkan kompetensi ditetapkan akan menghasilkan kinerja sesuai dengan standar profesi.

Kompetensi terkait kinerja auditor adalah kompetensi yang dibutuhkan untuk merencanakan dan melaksanakan penugasan audit internal yang sesuai dengan standar profesi. Kompetensi yang berkaitan dengan kinerja berikut ini.

No Pengetahuan Uraian terkait pengetahuan
1 Tata Kelola Organisasi Tata kelola organisasi adalah pemahaman mengenai proses pengelolaan organisasi dimana auditor bekerja
2 Fraud - tindak kecurangan Segala aktivitas yang illegal berupa penipuan, tersembunyi, yang merusak kepercayaan, yang dilakukan untuk mendapatkan kekayaan, properti, atau menghindari pembayaan untuk kepentingan pihak tertentu
3 Manajemen Risiko Kompetensi mengenai pengelolaan risiko mulai dari proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan risiko yang berpotensi mengganggu pencapaian tujuan
4 Pengendalian Internal Kompetensi mengenai pengendalian internal adalah pengetahuan mengenai proses yang dijalankan oleh pimpinan dan seluruh personil dalam perusahaan untuk mencapai tujuan
5 Perencanaan penugasan:
  • Tujuan dan ruang lingkup
  • Penilaian risiko
  • Program kerja, dan
  • Sumber daya
Pengetahuan mengenai perencanaan penugasan adalah pengetahuan berkaitan dengan pedoman pelaksanaan pekerjaan audit sesuai dengan standar 2200 - Perencanaan Penugasan
6 Pelaksanaan penugasan:
  • Perolehan informasi
  • Sampel
  • Teknik audit berbantuan komputer
  • Data analitis
  • Bukti audit
  • Pemetaan proses
  • Review analitis, dan
  • Dokumentasi penugasan
Kompetensi atas pengetahuan terkait dengan pelaksanaan penugasan sebagaimana dirumuskan dalam standar 2300 – pelaksanaan penugasan
7 Hasil penugasan
  • Kualitas komunikasi
  • Simpulan
  • Rekomendasi
  • Pelaporan
  • Risiko residu dan penerimaan risiko
  • Rencana tindak lanjut, dan
  • Hasil pemantauan
Kompetensi berkaitan dengan pelaksanaan penyusunan laporan hasil penugasan (standar 2400) dan pemantauan tindak lanjut hasil penugasan (standar 2500)

Ketujuh pengetahuan mengenai pelaksanaan penugasan ini sangat menunjang keberhasilan dalam menjalankan peran memberikan asurans serta mendukung pelaksanaan konsultansi.

Tingkatan pemahaman untuk tiap pengetahuan terkait pelaksanaan penugasan pada tingkatan penguasaan terurai berikut ini.

No Pengetahuan General Awareness Applied Knowledge Expert
1 Tata Kelola Organisasi Menjelaskan konsep pengelolaan organisasi Melakukan deteksi berkaitan dengan kebijakan tata kelola, penerapan tata kelola, dan struktur proses tata kelola Memberikan rekomendasi untuk perbaikan dan peningkatan terkait kebijakan, proses, dan struktur tata kelola organisasi
2 Fraud - tindak kecurangan Mengetahui mengenai berbagai jenis tindak kecurangan, risiko kecurangan, dan memahami tanda indikasi terjadinya tindak kecurangan (red flag) Melakukann evaluasi mengenai potensi terjadinya kejahatan dan bagaimana organisasi mendeteksi dan mengelola risiko fraud, menyusun rekomendasi untuk melindungi dan mendeteksi fraud, dan mengedukasi untuk peningkatan kesadaran akan tindakan fraud Menerapkan teknik audit forensik dalam pencegahan dan pendeteksian fraud
3 Manajemen Risiko Mampu menjelaskan konsep dasar mengenai risiko dan pengelolaan risiko; menjelaskan kerangka kerja pengelolaan manajemen risiko Menggunakan kerangka kerja pengelolaan risiko dalam mengidentifikasi potensi tantangan, menilai efektifitas manajemen risiko dalam proses dan fungsi Mampu melakukan penilaian efektifitas identifikasi dan pengelolaan risiko
4 Pengendalian Internal Mampu mengindentifikasi jenis pengendalian Mampu menggunakan kerangka kerja untuk menilai efektifitas dan efisiensi pengendalian internal Melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi pengembangan pengendalian internal; melakukan penilaian atas implementasi pengendalian internal
5 Perencanaan penugasan:
  • Tujuan dan ruang lingkup
  • Penilaian risiko
  • Program kerja, dan
  • Sumber daya
Menjelaskan peran dan aktivitas utama dalam menetapkan tujuan, evaluasi kriteria, dan ruang lingkup penugasan Menentukan tujuan, evaluasi kriteria, dan lingkup penugasan Melakukan evaluasi atas tujuan dan ruang lingkup untuk peningkatan kualitas penugasan
Menjelaskan tujuan dalam melaksanakan asesmen risiko selama peencanaan penugasan Menyelesaikan penilaian risiko secara detail termasuk penetapan risiko dan pengendalian utama Melakukan evaluasi kualitas proses manajemen risiko selama penugasan
Mampu menjelaskan tujuan dari program kerja penugasan Mampu melakukan penyusunan program kerja penugasan Mampu melakukan penilaian atas kualitas program kerja penugasan
Mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi perencanaan kebutuhan staf untuk melaksanakan penugasan dan mampu melakukan penyusunan rencana penggunaan sumber daya lainnya terkait penugasan Mampu menetapkan jumlah staf yang dibutuhkan dan sumber daya dalam penugasan Mampu melakukan evaluasi atas penggunaan staf auditor dan sumber daya lain dalam penugasan
6 Pelaksanaan penugasan:
  • Perolehan informasi
  • Sampel
  • Teknik audit berbantuan komputer
  • Data analitis
  • Bukti audit
  • Pemetaan proses
  • Review analitis, dan
  • Dokumentasi penugasan
Mampu menjelaskan tujuan survey pendahuluan dalam penugasan, penggunaan checklist, dan kuesioner terkait risiko-kontrol Mampu melaksanakan survey pendahuluan terkait lingkup penugasan, menyusun dan mengembangkan kuesioner serta checklist terkait risiko-kontrol serta mampu melakukan pemeriksaan informasi yang relevan selama penugasan Mampu melakukan evaluasi atas aktivitas pengumpulan data dan informasi terkait penugasan
Menjelaskan berbagai pendekatan dalam penetapan jumlah sampel termasuk kelebihan dan kekurangannya Mampu menerapkan teknik sampel yang sesuai Mampu melakukan evaluasi atas kegiatan penetapan sampel dalam proses penugasan
Mampu menjelaskan tujuan, kelebihan, dan kekurangan penggunaan teknik audit berbantuan computer Mampu menggunakan teknologi audit berbantuan computer Mampu melakukan evaluasi atas penggunaan teknologi audit berbantuan komputer selama proses penugasan
Menjelaskan analisis data, proses analisis data, dan penerapan analisis data dalam pekerjaan audit internal Mampu menggunakan teknik analisis data Melakukan evaluasi atas penggunaan analisis data dalam pekerjaan audit internal
Mampu mengidentifikasi sumber-sumber potensial untuk perolehan bukti audit Mampu melakukan evaluasi atas kesesuaian, kecukupan, dan keandalan sumber potensial terkait bukti Mampu mengembangkan pedoman untuk dijadikan dasar mengenai kesesuaian, kecukupan, dan kehandalan bukti
Mampu menjelaskan tujuan, kelebihan, dan kekurangan teknik audit yang melakukan pembandingan Mampu menerapkan pendekatan analitis yang sesuai dan teknik pembandingan proses Mampu melakukan evaluasi efektifitas pelaksanaan teknik audit mapping process
Mampu menjelaskan tujuan, kelebihan dan kekurangan dari berbagai teknik analisis review Mampu menentukan dan Menerapkan teknik analisis review yang sesuai Mampu melakukan evaluasi atas penggunaan teknik analisis review selama proses penugasan
Mampu menjelaskan mengenai pentingnya dokumentasi kertas kerja terkait penugasan Mampu menyusun kertas kerja penugasan dan mendokumentasikan Mampu melakukan evaluasi atas dokumentasi penugasan
7 Hasil penugasan
  • Kualitas komunikasi
  • Simpulan
  • Rekomendasi
  • Pelaporan
  • Risiko residu dan penerimaan risiko
  • Rencana tindak lanjut, dan
  • Hasil pemantauan
Mampu menjelaskan elemen dari laporan hasil penugasan Mampu menunjukkan komunikasi hasil penugasan yang berkualitas, termasuk dalam komunikasi pendahuluan dengan klien penugasan Mampu melakukan evaluasi atas dokumen komunikasi hasil penugasan
Mampu menentukan elemen dari simpulan hasil penugasan Mampu menyusun dan mengembangkan simpulan hasil penugasan Mampu melakukan evaluasi atas simpulan hasil penugasan
Mampu menjelaskan pentingnya menyajikan rekomendasi Mampu merumuskan rekomendasi yang menjaga dan meningkatkan nilai organisasi Mampu melakukan evaluasi atas rekomendasi penugasan
Menjelaskan proses penyusunan dan penyampaian pelaporan Mampu melakukan penyusunan laporan antara, laporan akhir, perolehan persetujuan, serta melakukan distribusi kepada pihak terkait Melakukan review dan memberikan persetujuan atas laporan penugasan termasuk distribusi laporan hasil penugasan
Mampu menjelaskan tanggung jawab Kepala Audit Internal dalam mengidentifikasi dan menilai risiko sisa (residual risk) dan proses untuk mengkomunikasikan risiko yang diterima manajemen Mampu melakukan identifikasi risiko residu Melakukan penilaian dampak dari resiko sisa serta mengkomunikasikan kepada para pihak yang berkepentingan
Mampu menjelaskan hasil penugasan dan menjelaskan tujuand dari pelaksanaan tindak lanjut Melakukan penilaian atas hasil penugasan, termasuk rencana tindak lanjut Mampu melakukan evaluasi atas hasil penugasan yang dilakukan oleh unit audit internal
Mampu menjelaskan pentingnya pemantauan dan pelaksanaan tindak lanjut berdasar disposisi dari hasil penugasan Mampu melakukan pemantauan dan pelaksanaan tindak lanjut hasil penugasan untuk kemudian dikomunikasikan kepada manajemen dan direksi Mampu melakukan evaluasi atas proses pemantauan dan pelaksanaan tindak lanjut hasil penugasan.

Demikian uraian mengenai kompetensi auditor internal dalam bagian kedua yang berisikan mengenai bagaimana pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan ketentuan dalam standar. Kemudian juga diuraikan mengenai pelaksanaan pengetahuan terkait pelaksanaan penugasan untuk setiap jenjang kualifikasi dari auditor tersebut.

Bagaimana penguasaan kompetensi anda semua terkait pelaksanaan pekerjaan auditor internal ini?

Read more


News

PROFESIONALISME

14 Aug 2022

KERANGKA KOMPETENSI AUDITOR INTERNAL 1

PROFESIONALISME

Profesional merupakan pelaksana atau orang yang memenuhi kualifikasi dalam satu profesi. Profesional merupakan atribut atau kelengkapan yang harus dikuasai oleh orang yang menjalani profesi tersebut. Demikian juga dengan auditor internal yang profesional.

Auditor internal yang profesional adalah auditor internal yang memiliki kompetensi sesuai dengan yang dibutuhkan. Kompetensi terkait profesionalisme adalah kompetensi utama yang dibutuhkan untuk menunjukkan kewenangan, kredibilitas, perilaku etis terkait pelaksanaan audit internal. Profesional ini berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan yang melekat dalam diri auditor.

Pengetahuan berikut ini menunjang dan berkaitan dengan profesionalitas auditor internal menurut kerangka kompetensi tahun 2020.

No Pengetahuan Uraian terkait pengetahuan
1 Misi Audit Internal Misi Audit Internal yang dirumuskan oleh IIA Global dalam IPPF:
To enhance and protect organizational value by providing risk-based and objective assurance, advice, and insight
2 Piagam Audit Internal Piagam audit internal menurut standar 1000 IPPF:
The internal audit charter is a formal document that defines the internal audit activity's purpose, authority, and responsibility. The internal audit charter establishes the internal audit activity's position within the organization, including the nature of the chief audit executive’s functional reporting relationship with the board; authorizes access to records, personnel, and physical properties relevant to the performance of engagements; and defines the scope of internal audit activities.
3 Independensi Organisasi Independensi Organisasi menurut standar 1110 IPPF:
Organizational independence is effectively achieved when the chief audit executive reports functionally to the board.
4 Individual Objectivity Obyektivitas Individu menurut standar 1120 IPPF:
Internal auditors must have an impartial, unbiased attitude and avoid any conflict of interest
5 Ethical Behavior Kode Etik menurut IPPF:
  1. Integrity
  2. Objectivity
  3. Confidentiality
  4. Competence
6 Due Professional Care Due Professional Care menurut standar 1220 IPPF:
Internal auditors must apply the care and skill expected of a reasonably prudent and competent internal auditor. Due professional care does not imply infallibility
7 Professional Development Professional Development menurut standar 1230 IPPF:
Internal auditors must enhance their knowledge, skills, and other competencies through continuing professional development

Dari rangkaian pengetahuan-pengetahuan ini berasal dari international professional practice framework (IPPF). Pengetahuan-pengetahuan ini akan membentuk sikap profesional para auditor internal.

Tingkat pemahaman dan penguasaan serta penerapan pengetahuan ini akan mencerminkan tingkatan auditornya. Sesuai dengan kerangka kompetensi maka terdapat tiga tingkatan auditor yaitu: general awareness (entry level); applied knowledge; dan expert. Distribusi penguasaan pengetahuan untuk tiap pengetahuan berkaitan dengan profesionalitas berikut ini.

No Pengetahuan General Awareness Applied Knowledge Expert
1 Misi Audit Internal Mengetahui mengenai tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab unit audit internal serta mampu membedakan antara peran asurans dan konsultansi Menunjukan kemampuan untuk melaksanakan penugasan asurans dan konsutansi yang sesuai dengan ketentuan dalam standar Mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi melalui pelaksanaan asurans dan konsultansi
2 Piagam Audit Internal Mampu menjelaskan mengenai piagam audit internal termasuk elemennya sesuai dengan standar Penyusunan piagam audit internal sesuai dengan standar dan mendapat persetujuan dari direksi Mampu melakukan evaluasi atas piagam audit internal sesuai dengan ketentuan dalam standar
3 Independensi Organisasi Mampu menjelaskan pentingnya independensi organisasi dan mampu mengidentifikasi elemen yang dapat berdampak pada tingkat independensi Mampu mendeteksi segala sesuatu yang dapat menyebabkan penurunan kualitas independensi organisasi berikut dengan dampak yang ditimbulkan Mampu menyampaikan berbagai hambatan dalam mencapai independensi sesuai dengan ketentuan standar dan mengkomunikasikan dampaknya kepada para pihak terkait
4 Individual Objectivity Mampu menjelaskan mengenai pentingnya obyektifitas bagi auditor internal serta memiliki kemampuan mengidentifikasi faktor yang dapat menurunkan nilai atau kualitas obyektifitas Mampu mendeteksi dan mengelola berbagai kondisi yang dapat menurunkan nilai obyektifitas serta mampu mempertahankan sikap obyektif bagi auditor internal Mengembangkan dan mempertahankan kebijakan mengenai pengelolaan obyektifitas serta memberikan rekomendasi mengenai strategi untuk peningkatan obyektifitas
5 Ethical Behavior Mampu menjelaskan pentingnya kode etik bagi auditor internal serta menyebutkan kode etik bagi auditor internal Menunjukkan kepatuhan pada kode etik yang telah ditetapkan Melakukan penilaian atas kepatuhan terhadap kode etik; serta merekomendasikan strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan standar etika yang tertinggi bagi auditor internal dan fungsi audit internal
6 Due Professional Care Mampu menjelaskan konsep kehati-hatian secara profesional Melaksanakan prinsip kehati-hatian secara profesional Mampu melakukan evaluasi dan membuat simpulan atas kepatuhan pada prinsip kehati-hatian ini.
7 Professional Development Mengakui pengetahuan, keahlian, dan kompetensi lain merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam menjalankan tanggung jawab dalam fungsi audit internal dan mengakomodasi keperluan pendidikan pengembangan berkelanjutan. Menunjukan upaya peningkatan kompetensi melalui Program Pengembangan Profesional Berkelanjutan Melakukan penilaian atas kompetensi yang dibutuhkan dalam melaksanakan tanggungjawab menjalankan fungsi audit internal serta mendorong pengembangan auditor menjadi semakin profesional.

Demikian uraian mengenai kompetensi auditor internal bagian pertama yang menguraikan mengenai atribut-atribut profesional yang seharusnya melekat dalam diri auditor internal berikut dengan tingkat penguasaan materi dalam setiap tingkatan jabatannya.

Bagaimana penguasaan kompetensi anda semua terkait profesionalime  ini?

Read more

PENTINGNYA SEBUAH PERENCANAAN

03 Jul 2022

Dalam berbagai aspek kehidupan, Perencanaan memegang arti sangat penting. Berbagai pendapat para tokoh dunia mengenai pentingnya sebuah perencanaan berikut ini.

“Failing to plan is planning to fail – Allen Lakein – seorang American pakar dalam bidang pengelolaan waktu dari John Hopkins University Harvard Business School”

“A goal without a plan is just a wish – Antoine de Saint – Exupery – Seorang berkebangsaan Prancis,  Berprofesi sebagai Pilot dan juga penulis”

“Plans are nothing; planning is everything – Dwight D Eisenhower – Jenderal Angkatan Darat Komandan Sekutu di Eropa dan Presiden Amerika Serikat ke 34”

“By Failing to prepare, you are preparing to fail – Benjamin Franklin – Presiden Amerika Serikat ke 6”

“Plans are worthless, but planning is invaluable – Peter Drucker – Bapak Manajemen Modern”

Dalam berbagai ungkapan tadi dapat disimpulkan pentingnya sebuah proses perencanaan. Bahkan selembar rencana bahkan tidak memiliki arti jika tidak dikuti dengan proses atau kegiatan penyusunan rencana. Sebuah tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai atau target yang ingin direalisasikan tanpa sebuah rencana adalah hanya sekedar impian.

Rencana dalam berbagai kajian Bahasa merupakan sebuah kata benda dalam hal ini adalah suatu produk yang berisikan rancangan yang hendak dicapai. Dalam Bahasa inggris mengutip dari oxford dictionary online, rencana (plan) merupakan “noun – something that you intend to do or achieve”.

Aktivitas untuk menyusun rencana adalah proses perencanaan atau planning. Dalam aktivitas ini terdapat proses penyusunan atau pembuatan rencana. Dalam proses perencanaan ini berbagai kondisi di masa depan dihadirkan sehingga para penyusun mendapat gambaran yang memadai mengenai kondisi yang akan dicapai di masa depan. “Planning is bringing the future into present so that you can do something about it now – Quote ini juga dirumuskan oleh Allen Lakein. Hal ini juga dinyatakan oleh Mahathir Mohamad “Planning means looking ahead”.

Perencanaan juga memegang peranan penting dalam aktivitas atau kegiatan yang akan dijalankan oleh auditor internal di masa depan. Perencanaan merupakan bentuk mitigasi dari risiko ketidakjelasan arah yang hendak dicapai di masa depan. Dalam rangkaian kegiatan auditor internal terdapat dua jenis perencanaan yang berkaitan dengan durasi waktu pelaksanaannya. Perencanaan yang pertama adalah perencanaan penugasan selama satu tahun atau lebih (annual plan). Termasuk dalam hal ini adalah proses penyusunan rencana strategis dengan durasi waktu lebih dari satu tahun.

Jenis perencanaan kedua adalah perencanaan penugasan (engagement planning). Perencanaan penugasan adalah tahapan yang harus dilakukan sebagai bentuk persiapan sebelum melaksanakan penugasan. Persiapan ini dilakukan baik untuk penugasan asurans maupun konsultansi. Dengan perencanaan penugasan maka proses pelaksanaan penugasan akan terarah dan mencapai hasil sesuai dengan yang ditetapkan dalam tujuan penugasan.

Selain memberi arah dan petunjuk untuk melaksanakan kegiatan selama kurun waktu tertentu, perencanaan juga merupakan suatu tools untuk melakukan pengendalian pada saat perencanaan telah diimplementasi menuju suatu pencapaian kinerja. Dengan pengendalian maka arah pencapaian sasaran dapat dijaga dan dalam hal terdapat deviasi antara yang direncanakan dengan yang terealisasi maka melalui penjelasan dapat dilakukan sebagai hasil dari pengendalian.

Perencanaan juga dapat merupakan suatu tools untuk melakukan penilaian. Media perencanaan merupakan sumber utama dalam penilaian atas efektifitas dan efisiensi pelaksanaan suatu kegiatan.

Perencanaan tanpa pelaksanaan merupakan sesuatu yang sia-sia.

Quotes berikut ini sangat memberikan inspirasi terkait pelaksanaan perencanaan menuju kesuksesan.

“Plan your work for today and every day, then work your plan – Margaret Thatcher – Perdana Menteri United Kingdom”

“Before anything else, preparation is the key success – Alexander Graham Bell Ilmuwan Amerika kelahiran Britania Raya Penemu Telepon”

“Plans are only good intentions, unless they immediately degenerate into hard work – Peter Drucker”,

“if Plan A fails, remember there are 25 more letters – Chris Guillebeau – Pengarang warga negara Amerika”.

Read more

STANDAR AUDIT INTERNAL - UKURAN MUTU BAGI PROFESIONAL DAN PRAKTISI AUDIT INTERNAL

26 Jun 2022

Fungsi audit internal pada saat ini sudah merupakan suatu profesi. Sebagai suatu profesi maka kontribusi dari auditor internal harus memiliki batasan mutu sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para pengguna jasa auditor internal. Untuk dapat memberikan kontribusi dengan mutu sesuai harapan maka pelaksanaan pekerjaan memerlukan suatu standar. Standar menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki definisi ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan. Ukuran mutu ini akan menjadikan hasil pekerjaan auditor sesuai dengan ekspektasi dari para pemangku kepentingan khususnya pengguna laporan auditor.

Auditor internal dalam melaksanakan pekerjaan secara universal telah memiliki rumusan mengenai standar profesi. Standar profesi ini menjadi bagian dari kerangka kerja praktek profesional secara internasional – International Professional Practice Framework (IPPF). Standar ini dirumuskan oleh organisasi profesi yang menaungi para praktisi dan juga mitra dari profesi. IPPF untuk audit internal secara global dirumuskan oleh The Institute of Internal Auditor (IIA).

IIA menetapkan standar memiliki 4 (empat) fungsi. Ke empat fungsi ini antara lain:

  1. Sebagai pedoman yang harus dipatuhi berkaitan dengan hal-hal yang wajib dalam kerangka profesi (IPPF),
  2. Memberikan pedoman dan petunjuk untuk melaksanakan berbagai layanan audit internal yang memiliki nilai tambah,
  3. Standar sebagai dasar untuk melakukan evaluasi atas kinerja unit audit internal
  4. Dengan menerapkan standar, audit internal mendorong proses dan operasional organisasi menjadi lebih baik.

Penjelasan dari masing-masing fungsi berikut ini.

  1. Pedoman yang harus dipatuhi sebagai bagian dari pedoman wajib dalam kerangka profesi
    Standar audit merupakan bagian dari pedoman wajib yang harus dipatuhi. Pedoman wajib dalam IPPF ini antara lain: definisi dari pekerjaan audit internal, prinsip dasar, kode etik, dan standar. Dalam pedoman wajib ini mendefinisikan berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan audit internal termasuk infrastruktur yang harus disediakan dan interaksi dengan mitra kerja serta pemangku kepentingan.
    Pedoman wajib ini merupakan pedoman yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh auditor internal dan unit kerja audit internal.
  2. Memberikan pedoman dan petunjuk untuk melaksanakan berbagai layanan audit internal yang memiliki nilai tambah
    Auditor Internal dan mitra auditor memiliki ekspektasi yang sama yaitu pelaksanaan hasil pekerjaan audit internal memberikan kontribusi dalam perbaikan perusahaan secara keseluruhan. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka auditor internal menetapkan pelaksanaan pekerjaan yang memiliki nilai tambah.
    Dalam mencapai pelayanan audit internal dengan nilai tambah, organisasi profesi merumuskan berbagai ketentuan yang meliputi infrastruktur dan pelaksanaan pekerjaan yang dapat memberikan nilai tambah bagi organisasi.
  3. Standar sebagai dasar untuk melakukan evaluasi atas kinerja unit audit internal
    Selain berfungsi sebagai pedoman bagi auditor dalam bekerja, maka standar juga berfungsi sebagai kriteria atau kondisi ideal untuk menilai pelaksanaan pekerjaan audit internal. Dalam evaluasi ini penilaian dilakukan dengan mengacu pada standar sehingga berkaitan dengan penilaian infrastruktur kelembagaan dan proses pelaksanaan pekerjaan auditor.
  4. Dengan menerapkan standar, audit internal mendorong proses dan operasional organisasi menjadi lebih baik
    Dengan melaksanakan fungsi sebagai audit internal yang berkualitas dan sesuai dengan standar profesi ini maka akan memberi dampak pada percepatan dan perbaikan berkelanjutan atas proses dan operasional organisasi menjadi lebih baik.

Standar audit internal ini dirumuskan oleh The International Internal Audit Standard Board (IIASB). IIASB merupakan satu organ yang menjadi bagian dari tata kelola IIA Global. Rumusan oleh IIASB ini kemudian sebelum diterbitkan dibahas dan disetujui oleh The International Professional Practice Framework Oversight Council (IPPFOC).

Sistematika Standar Audit Internal berikut ini.

Bagian Penjelasan
Standar

Pernyataan mengenai persyaratan minimal dalam pelaksanaan profesi audit internal yang kemudian juga dijadikan sebagai dasar dalam penilaian efektifitas kinerja dari unit audit internal ini. Standar ini terdiri dari dua kelompok besar yaitu standar atribut dan standar kinerja.

Standar atribut adalah Standar yang mencantumkan mengenai karakteristik organisasi yang harus dipenuhi atau diakomodasi dan para pihak yang terkait dengan pelaksanaan fungsi audit internal. Dalam standar, kelompok standar atribut merupakan standar yang dimulai dengan angka 1 dalam penetapan kode standar.

Standar kinerja adalah standar yang menjelaskan bagaimana pelaksanaan audit internal dan memberikan kriteria yang dapat digunakan dalam penilaian kinerja pelaksanaan audit internal. Kelompok standar kinerja dimulai dengan angka 2 dalam sistematika penomoran standar.

Interpretasi Dalam setiap standar, pada beberapa bagian dilengkapi dengan interpretasi yang memberikan penjelasan detail mengenai istilah atau konsep yang dicantumkan dalam standar. Interpretasi ini diberikan untuk memberikan batasan pengertian sehingga multi interpretasi tidak terjadi.
Glossary Standar juga dilengkapi dengan glossary atau penjelasan umum mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam standar. Dengan adanya glossary ini maka kesepemahaman global dapat tercapai dan silang pendapat karena perbedaan penafsiran tidak terjadi

Kemudian IIA Global juga sudah melengkapi standar ini dengan Pedoman Implementasi atas setiap standar. Dalam pedoman implementasi diuraikan mengenai bagaimana penerapan dan praktek dari standar tersebut. Dengan berbagai kelengkapan standar ini diharapkan unit / fungsi audit internal dapat melakukan penerapan standar baik melalui adopsi menjadi bagian dari infrastruktur unit kerja audit internal atau menyatakan langsung mengacu pada standar internasional.

Read more

PRINSIP-PRINSIP DASAR FUNGSI AUDIT INTERNAL (CORE PRINCIPLES)

19 Jun 2022

Tulisan ini masih merupakan rangkaian dari penulisan sebelumnya yang membahas mengenai standar profesi audit internal. Standar bersama dengan prinsip dasar dan kode etik serta definisi pekerjaan audit internal merupakan kelompok Pedoman yang wajib (mandatory) dipersiapkan dan dilaksanakan agar pelaksanaan pekerjaan audit internal efektif, efisien, dan sesuai dengan ekspektasi para pemangku kepentingan. Pada bagian ini akan diulas mengenai Prinsip-prinsip dasar.

Dalam glossary dinyatakan Core Principles merupakan:

“The Core Principles for the Professional Practice of Internal Auditing are the foundation for the International Professional Practices Framework and support internal audit effectiveness”.

Dari definisi tersebut tercantum jelas bahwa prinsip-prinsip ini merupakan basic atau foundation yang diyakini akan memberikan dasar bagaimana praktek audit internal ini akan efektif.

Prinsip dasar ini merupakan serangkaian kondisi dan infrastruktur yang harus disediakan agar dapat memberikan bukti nyata bahwa pelaksanaan fungsi audit internal ini akan efektif. Selain itu penerapan semua prinsip secara terintegrasi dan kohesif akan menjadikan fungsi audit internal selain efektif juga akan mencapai tingkat efisiensi yang paling maksimum. Hal ini tercantum dalam pengantar mengenai core principles.

Upaya untuk pemenuhan semua prinsip dasar ini merupakan suatu perjuangan jangka panjang karena harus meyakinkan semua pihak untuk membantu audit internal memenuhi sebagian atau seluruh prinsip. Dalam prinsip-prinsip tersebut, pada umumnya membutuhkan persetujuan dan kesediaan unit kerja lain untuk dapat memenuhinya. Cara untuk pemenuhannya bisa jadi sangat berbeda namun diharapkan semua prinsip ini hadir dan berfungsi serta saling berintegrasi. Ketidaktersediaan satu prinsip atau lebih akan dapat menjadikan fungsi audit internal tidak akan memberikan yang terbaik bagi organisasinya.

Prinsip-prinsip dasar ini terurai berikut.

Menunjukkan Integritas Audit Internal sebagai satu fungsi dan juga sebagai individu harus senantiasa menunjukkan integritas dalam aktivitas sehari-hari.
Menunjukkan Kompetensi dan Kehati-hatian/kecermatan secara professional Dalam memberikan jasa asurans dan juga konsultansi, Fungsi audit internal harus mampu menunjukkan kompetensi dalam menguasai permasalahan yang sedang direview serta dalam pelaksanaan pekerjaannnya harus dilaksanakan dengan penuh kecermatan dan kehati-hatian sebagaimana seorang professional.
Bertidak objektif dan bebas dari pengaruh pihak lain (independen) Pekerjaan berupa penilaian kesesuaian (asurans) yang dilakukan oleh auditor internal harus dilaksanakan dengan menjunjung tinggi obyektifitas dan terbebas dari pengaruh siapapun terutama pihak yang berkepentingan sehingga tidak terdapat konflik kepentingan. Pelaksanaan pekerjaan dengan obyektif ini akan memberikan keyakinan bahwa penilaian yang dilakukan adalah sesuai dan tanpa ada pengaruh dari siapapun.
Sejalan dengan strategi, tujuan, dan risiko organisasi Kontribusi hasil pekerjaan audit internal harus senantiasa searah dan sejalan dengan strategi, tujuan, sasaran, dan juga fokus pada risiko-risiko utama organisasi. Kesesuaian ini sangat penting dan menjadi fokus utama karena dengan demikian maka pencapaian kinerja organisasi secara keseluruhan telah diiringi dengan pelaksanaan asurans dan konsultansi di dalamnya.
Diposisikan secara memadai dan sumber dayanya tercukupi Unit kerja audit internal harus ditempatkan dalam posisi yang memungkinkan untuk menerapkan prinsip independensi. Penetapan tingkatan ini sangat krusial untuk memitigasi dari risiko hambatan struktural. Untuk itu diperlukan komitmen dari Direksi dan juga para manajemen senior mengenai posisi ini. Kemudian untuk dapat melaksanakan tugas-tugasnya, fungsi audit internal membutuhkan berbagai sumber daya seperti sumber daya auditor, anggaran, teknologi, dan sumber daya lain yang relevan. Dan seluruh kebutuhan ini hendaknya harus tercukupi dan dipenuhi oleh Direksi.
Menunjukkan hasil pekerjaan yang berkualitas melalui program penilaian dan pengembangan kualitas ini dilaksanakan secara berkelanjutan Kepala audit internal harus memprogramkan dan menjalankan program penilaian kualitas hasil pekerjaan audit internal dan dalam hal terdapat ketidaksesuaian maka terdapat program pengembangan yang berkelanjutan. Program ini dikenal dengan nama Quality Assurance and Improvement Program. Program ini merupakan program yang wajib dilaksanakan dan menjadi bagian dari standar atribut.

 

Mampu berkomunikasi secara efektif Pelaksanaan pekerjaan audit internal sangat membutuhkan interaksi dengan pihak terkait dalam organisasi. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan dan proses penilaian informasi dapat terjalin dengan baik, maka auditor harus mampun berkomunikasi secara efektif sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan penugasannya.
Menyajikan Asurans berbasis risiko Dalam melaksanakan penugasan asurans maka auditor harus fokus pada prioritas organisasi. Hal ini umumnya terjadi dalam situasi adanya keterbatasan sumber daya. Maka untuk dapat berkontribusi secara efektif dan sesuai dengan strategi organisasi, maka auditor harus melaksanakan penugasan dan program kerja dengan berbasis pada risiko.
Fokus pada wawasan, pro aktif, dan Fokus pada masa depan Dalam melaksanakan penilaian atas pelaksanaan pekerjaan, auditor juga diharapkan memberikan penilaian pada pelaksanaan tata kelola yang saat ini berjalan dan memberikan berbagai masukan untuk peningkatan proses atau insight. Auditor menjalankan peran melakukan penilaian kedalam ini sudah menjadi bagian dari inisiatif auditor dan dalam hal terdapat saran perbaikan maka bertujuan untuk menjadikan masa depan lebih baik, lebih efisien, dan lebih efektif.
Mendorong perbaikan organisasi Hasi pelaksanaan asurans dan konsultansi tidak hanya berfokus pada penilaian evaluasi kesesuaian melainkan juga harus berfokus pada pemberian saran-saran yang menjadi bagian dari perbaikan organisasi secara berkelanjutan.

Demikian semua pilar-pilar yang menjadi prinsip dasar bagi auditor internal dalam menjalankan perannya pada setiap organisasi. Pemenuhan prinsip-prinsip ini memerlukan waktu yang tidak sebentar serta membutuhkan infrastruktur dan program yang memadai.

PPAK siap menjadi mitra anda dalam mengelaborasi dan memenuhi infrastruktur prinsip-prinsip dasar in sehingga fungsi audit internal para mitra menjadi lebih efektif, efisien, dan berkualitas tinggi.

Read more


News

RAGAM KONSULTASI DALAM AUDIT INTERNAL

18 Apr 2022

Auditor Internal sesuai dengan definisinya pada saat ini melaksanakan dua kegiatan utama yaitu melakukan kegiatan assurance dan kegiatan konsultasi. Melalui dua kegiatan ini, auditor internal akan memberikan nilai tambah serta peningkatan dan perbaikan dalam operasional kegiatan perusahaan. Kegiatan assurance secara umum telah dimengerti dan diselenggarakan oleh unit kerja audit internal. Sementara itu tidak sedikit audit internal yang memerlukan penjelasan mengenai bentuk dan penyelenggaraan kegiatan konsultasi. Pada artikel ini akan disajikan mengenai segala hal mengenai Konsultasi.

Kegiatan konsultasi adalah aktivitas pemberian saran (advis) bagi klien atau unit kerja, dimana sifat dan ruang lingkup kegiatannya berdasarkan kesepakatan bersama antara auditor sebagai konsultan dan unit kerja dan/atau proses sebagai klien atau mitra, yang dimaksudkan untuk memberikan nilai tambah dan peningkatan dalam tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian tanpa auditor internal dipersepsikan menjadi penanggung jawab dari kegiatan. Inisiatif atas terselenggaranya kegiatan konsultasi ini dapat berasal dari auditor internal maupun dari unit kerja.

Kegiatan asurans dan konsultasi memiliki persamaan dan perbedaan.

Persamaan kedua kegiatan yang merupakan kontribusi dari unit kerja audit internal adalah memberikan nilai tambah dan peningkatan dalam kegiatan operasional. Kemudian semua kontribusi audit internal ini membantu organisasi mencapai tujuan melalui evaluasi dan peningkatan dalam pengelolaan risiko, pengendalian, dan tata kelola.

Hal yang membedakan antara asurans dengan konsultasi berikut ini:

  1. Para pihak yang terkait dengan kegiatan penugasan
    Dalam kegiatan asurans para pihak yang terkait penugasan ada tiga yaitu auditor internal sebagai pemberi asurans, Pimpinan organisasi sebagai pihak yang diberikan keyakinan oleh auditor, dan Unit kerja sebagai pihak yang direview.
    Dalam kegiatan konsultasi secara umum kegiatan terselenggara antara dua pihak yaitu pihak auditor sebagai konsultan dan pihak unit kerja sebagai klien.

  2. Penetapan tujuan dan ruang lingkup
    Dalam kegiatan asurans tujuan dan ruang lingkup kegiatan penugasan merupakan kewenangan auditor internal.
    Sedangkan dalam kegiatan konsultasi tujuan dan ruang lingkup merupakan kesepakatan kedua belah pihak yaitu konsultan dengan klien.

Kegiatan konsultasi sangat cair dan dapat beragam jenis bentuk pelaksanaannya. Bentuk kegiatan konsultasi adalah untuk memenuhi kebutuhan manajemen. Dan upaya pemenuhan kebutuhan manajemen atau unit kerja ini dapat terselenggara dalam berbagai bentuk baik kegiatan formal maupun kegiatan yang informal. Auditor Internal harus merespon semua permintaan kebutuhan manajemen ini baik secara formal maupun informal. Selain itu kegiatan konsultasi juga dapat terselenggara dengan auditor internal sebagai inisiatornya.

Ragam kegiatan konsultasi antara lain: 1) Pemberian saran dan masukan (advisory); 2) Peningkatan kompetensi melalui pemberian kegiatan pelatihan (training); dan 3) Bersama unit kerja melaksanakan suatu aktivitas sehingga aktivitas tersebut menjadi sesuai melalui fasilitasi.

  1. Pemberian saran dan masukan (advisory)
    Pada umumnya kegiatan konsultasi berupa pemberian masukan atau saran (advis). Inisiator kegiatan ini dapat dari audit internal sebagai konsultan maupun dari unit kerja atau klien.
    Unit kerja membutuhkan masukan dan saran dalam hal terdapat kebutuhan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi atas proses bisnis dan kegiatan tertentu. Ragam kegiatan konsultasi antara lain:
    • Permintaan saran dalam proses desain pengendalian atas suatu kegiatan unit kerja agar pengendaliannya efektif dan efisien,
    • Permintaan saran dalam pengembangan kebijakan dan prosedur unit kerja
    • Berpartisipasi dalam pemberian saran atas kegiatan proyek yang beresiko tinggi
    • Pemberian saran dalam hal terdapat permasalahan dalam pengamanan dan keberlangsungan kegiatan, dan
    • Pemberian saran dalam peningkatan kegiatan pengelolaan risiko organisasi.

    Konsultan dapat juga berinisiatif memberikan saran (advis) dalam hal auditor mendapatkan informasi yang berpotensi berpengaruh pada kegiatan unit kerja. Informasi ini bisa berbentuk regulasi baru, teknologi baru, perkembangan baru, risiko baru, dan berbagai hal lainnya.
  2. Peningkatan kompetensi melalui kegiatan pelatihan (training)
    Kegiatan konsultasi berikutnya adalah penyelenggaraan kegiatan pelatihan. Audit internal dengan pengalamannya selama ini memiliki berbagai pengetahuan termasuk yang spesifik termasuk pengetahuan yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan unit kerja. Bentuk pengetahuan antara lain pemahaman atas regulasi, penilaian dan pengelolaan risiko, serta berbagai aspek pengetahuan lainnya. Dan kemudian auditor internal sebagai konsultan memberikan edukasi melalui kegiatan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan dan peningkatan kompetensi dari unit kerja.
    Inisiator kegiatan pelatihan dapat melalui auditor dan juga unit kerja. Tema dan content pelatihan merupakan kesepakatan kedua belah pihak.
  3. Fasilitasi suatu kegiatan
    Kegiatan konsultasi berupa fasilitasi terlaksana dimana auditor bersama klien menjalankan kegiatan. Dengan kontribusi auditor melalui fasilitasi menjadikan kegiatan lebih baik dan lebih berkualitas. Berbagai jenis kegiatan yang umumnya dapat difasilitasi oleh auditor antara lain:
    • Fasilitasi pelaksanaan kegiatan penilaian risiko
    • Fasilitasi penilaian mandiri atas pengendalian
    • Fasilitasi dalam pekerjaan re-desain pengendalian dan juga kebijakan dan prosedur
    • Sebagai penghubung (liaison) antara manajemen dengan pihak eksternal seperti akuntan publik, pemerintah, dan mitra lain dalam pelaksanaan kegiatan tertentu
    • Melakukan fasilitasi dalam melakukan analisis dan investigasi pasca adanya kejadian yang berdampak signifikan karena kegiatan yang terhenti.

Semua informasi di atas merupakan ragam kegiatan terkait konsultasi. Semua kegiatan ini hendaknya terdokumentasi oleh unit kerja audit internal sebagai bentuk pelaksanaan kegiatan konsultasi terutama kegiatan yang belum tercantum dalam program kerja tahunan.

Read more

ASURANS, KONSULTASI, INDEPENDENSI, DAN OBYEKTIFITAS

12 Apr 2022

Lanjutan: Memposisikan Independensi dan Obyektifitas dengan Benar

Pada tahun 1999, The Institute of Internal Auditors (IIA) Global telah merumuskan aktivitas atau kegiatan audit internal secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu asurans dan konsultasi. Kegiatan audit internal didefinisikan sebagai aktivitas asurans dan konsultasi yang independen dan obyektif yang didesain untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi. Dari definisi tersebut maka penyelenggaraan kegiatan asurans dan konsultasi akan efektif bila diselenggarakan secara independent dan obyektif.

Pada tulisan sebelumnya Bang Odit telah menyampaikan definisi dan positioning dari independen dan obyektif. Dan pada artikel ini akan disampaikan mengenai penerapan kedua hal ini khususnya dalam kegiatan asurans dan konsultasi. Independensi secara langsung tidak memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan asurans dan konsultasi karena berkaitan dengan positioning unit kerja audit internal dalam organisasi.

Kegiatan Asurans merupakan suatu proses pemeriksaan bukti secara obyektif dengan tujuan untuk memberikan penilaian yang independen atas tata kelola, manajemen risiko, dan proses pengendalian (GRC – governance, risk management, and control) dalam organisasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan dan tanggung jawab utama unit kerja audit internal dalam organisasi yaitu memberikan penilaian atas kesesuaian GRC dengan kriteria yang ideal untuk kemudian memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) kepada pihak yang berkaitan. Pelaksanaan kegiatan asurans sangat memerlukan posisi auditor yang obyektif. Dengan posisi auditor yang obyektif maka auditor tidak berada dalam konflik kepentingan dan hasil pelaksanaan kegiatan asurans dapat disajikan dengan keyakinan yang memadai dan tanpa keraguan.

Sedangkan kegiatan konsultasi adalah kegiatan pemberian saran atau advisory yang bentuk dan ruang lingkupnya disepakati bersama antara unit audit internal (sebagai konsultan) dengan unit kerja atau fungsi (sebagai klien) yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dan peningkatan terkait GRC tanpa menjadikan audit internal sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut. Kegiatan konsultasi ini dapat berbentuk pemberian saran atau nasihat, masukan, sebagai fasilitator, dan/atau melalui pelatihan. Kontribusi auditor internal dalam kegiatan konsultasi berpotensi dapat menurunkan nilai obyektifitas. Auditor internal harus berhati-hati dalam menjaga obyektifitas ini.

Penurunan Nilai Dalam Independensi dan Obyektifitas

Penurunan Nilai Independensi

Independensi akan mengalami permasalahan berbentuk penurunan dalam hal terdapat perubahan struktur organisasi. Independensi tercermin dari Unit Kerja Audit Internal secara struktur organisasi bertanggung jawab kepada Board of Directors atau dalam sistem korporasi Indonesia bertanggung jawab kepada Direksi dan juga Dewan Komisaris. Atasan langsung Audit Internal dalam Direksi pada umumnya adalah Direktur Utama. Independensi akan menurun nilainya jika Audit Internal bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Kerja yang menjadi bagian dari Audit Universe yang merupakan Potensial Auditable Unit.

Penurunan Nilai Obyektifitas

Obyektifitas yang menjadi bagian integral dalam pelaksanaan kegiatan audit internal. Penurunan nilai akan terjadi atau diduga terjadi dalam hal:

Auditor sebelumnya menjadi bagian dari unit kerja yang akan menjadi obyek kegiatan asurans untuk kurun waktu satu tahun sebelumnya atau sesuai dengan ruang lingkup periode yang diaudit

Terdapat kedekatan personal yang relative dekat antara auditor dengan pimpinan atau penanggung jawab unit kerja yang akan di audit

Auditor internal terlalu cepat mengambil simpulan tanpa bukti yang memadai bahwa unit kerja yang diaudit telah efektif melakukan mitigasi risiko pada unit kerjanya

Auditor internal melakukan perubahan program kerja audit atau modifikasi hasil penugasan tanpa alasan dan bukti yang mendukung dan memadai.

Keterkaitan Penugasan Asurans, Konsultasi, dan Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap yang harus dipelihara oleh auditor dalam pelaksanaan penugasan khususnya pelaksanaan penugasan asurans. Sikap ini melekat dalam diri auditor internal. Untuk itu terdapat pengaturan untuk menjaga obyektifitas berikut ini.

Obyektifitas tidak akan terganggu dalam hal auditor melaksanakan tugas konsultasi setelah sebelumnya melakukan asurans.

Pimpinan unit kerja auditor internal harus berhati-hati dalam hal menugaskan auditor untuk melakukan kegiatan asurans setelah yang bersangkutan sebelumnya melakukan kegiatan konsultasi.

Kegiatan konsultasi sangat beragam dan untuk itu auditor internal harus melakukan kajian terkait adanya potensi pelemahan dalam obyektifitas.

Penegakan obyektifitas merupakan syarat utama dalam pelaksanan penugasan asurans sehingga hasil penugasannya akan efektif dan berkualitas.

Lanjutan: Memposisikan Independensi dan Obyektifitas dengan Benar

Pada tahun 1999, The Institute of Internal Auditors (IIA) Global telah merumuskan aktivitas atau kegiatan audit internal secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu asurans dan konsultasi. Kegiatan audit internal didefinisikan sebagai aktivitas asurans dan konsultasi yang independen dan obyektif yang didesain untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi. Dari definisi tersebut maka penyelenggaraan kegiatan asurans dan konsultasi akan efektif bila diselenggarakan secara independent dan obyektif.

Pada tulisan sebelumnya Bang Odit telah menyampaikan definisi dan positioning dari independen dan obyektif. Dan pada artikel ini akan disampaikan mengenai penerapan kedua hal ini khususnya dalam kegiatan asurans dan konsultasi. Independensi secara langsung tidak memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan asurans dan konsultasi karena berkaitan dengan positioning unit kerja audit internal dalam organisasi.

Kegiatan Asurans merupakan suatu proses pemeriksaan bukti secara obyektif dengan tujuan untuk memberikan penilaian yang independen atas tata kelola, manajemen risiko, dan proses pengendalian (GRC – governance, risk management, and control) dalam organisasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan dan tanggung jawab utama unit kerja audit internal dalam organisasi yaitu memberikan penilaian atas kesesuaian GRC dengan kriteria yang ideal untuk kemudian memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) kepada pihak yang berkaitan. Pelaksanaan kegiatan asurans sangat memerlukan posisi auditor yang obyektif. Dengan posisi auditor yang obyektif maka auditor tidak berada dalam konflik kepentingan dan hasil pelaksanaan kegiatan asurans dapat disajikan dengan keyakinan yang memadai dan tanpa keraguan.

Sedangkan kegiatan konsultasi adalah kegiatan pemberian saran atau advisory yang bentuk dan ruang lingkupnya disepakati bersama antara unit audit internal (sebagai konsultan) dengan unit kerja atau fungsi (sebagai klien) yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dan peningkatan terkait GRC tanpa menjadikan audit internal sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut. Kegiatan konsultasi ini dapat berbentuk pemberian saran atau nasihat, masukan, sebagai fasilitator, dan/atau melalui pelatihan. Kontribusi auditor internal dalam kegiatan konsultasi berpotensi dapat menurunkan nilai obyektifitas. Auditor internal harus berhati-hati dalam menjaga obyektifitas ini.

Penurunan Nilai Dalam Independensi dan Obyektifitas

Penurunan Nilai Independensi

Independensi akan mengalami permasalahan berbentuk penurunan dalam hal terdapat perubahan struktur organisasi. Independensi tercermin dari Unit Kerja Audit Internal secara struktur organisasi bertanggung jawab kepada Board of Directors atau dalam sistem korporasi Indonesia bertanggung jawab kepada Direksi dan juga Dewan Komisaris. Atasan langsung Audit Internal dalam Direksi pada umumnya adalah Direktur Utama. Independensi akan menurun nilainya jika Audit Internal bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Kerja yang menjadi bagian dari Audit Universe yang merupakan Potensial Auditable Unit.

Penurunan Nilai Obyektifitas

Obyektifitas yang menjadi bagian integral dalam pelaksanaan kegiatan audit internal. Penurunan nilai akan terjadi atau diduga terjadi dalam hal:

  • Auditor sebelumnya menjadi bagian dari unit kerja yang akan menjadi obyek kegiatan asurans untuk kurun waktu satu tahun sebelumnya atau sesuai dengan ruang lingkup periode yang diaudit
  • Terdapat kedekatan personal yang relative dekat antara auditor dengan pimpinan atau penanggung jawab unit kerja yang akan di audit
  • Auditor internal terlalu cepat mengambil simpulan tanpa bukti yang memadai bahwa unit kerja yang diaudit telah efektif melakukan mitigasi risiko pada unit kerjanya
  • Auditor internal melakukan perubahan program kerja audit atau modifikasi hasil penugasan tanpa alasan dan bukti yang mendukung dan memadai.

Keterkaitan Penugasan Asurans, Konsultasi, dan Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap yang harus dipelihara oleh auditor dalam pelaksanaan penugasan khususnya pelaksanaan penugasan asurans. Sikap ini melekat dalam diri auditor internal. Untuk itu terdapat pengaturan untuk menjaga obyektifitas berikut ini.

  1. Obyektifitas tidak akan terganggu dalam hal auditor melaksanakan tugas konsultasi setelah sebelumnya melakukan asurans.
  2. Pimpinan unit kerja auditor internal harus berhati-hati dalam hal menugaskan auditor untuk melakukan kegiatan asurans setelah yang bersangkutan sebelumnya melakukan kegiatan konsultasi
  3. Kegiatan konsultasi sangat beragam dan untuk itu auditor internal harus melakukan kajian terkait adanya potensi pelemahan dalam obyektifitas.

Penegakan obyektifitas merupakan syarat utama dalam pelaksanan penugasan asurans sehingga hasil penugasannya akan efektif dan berkualitas.

Read more

MEMPOSISIKAN INDEPENDENSI DAN OBYEKTIFITAS DENGAN BENAR

04 Apr 2022

Fungsi Audit Internal sering kali menyebut dirinya baik sebagai unit kerja dan juga auditornya harus senantiasa menjaga independen dan obyektifitas. Kedua istilah ini sering kali digunakan baik secara bersamaan maupun secara parsial yang pada umumnya untuk menyampaikan pesan pentingnya auditor internal untuk menjaga jarak dan tidak terlibat dalam kegiatan operasional unit kerja dalam organisasi. Atas nama Independensi dan obyektifitas juga sering kali auditor internal harus menahan diri untuk tidak terlibat dalam mendukung dan membantu unit kerja lain ketika membutuhkan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman teknis dari auditor internal.

Bagaimana IIA Global menetapkan pengaturan mengenai independensi dan obyektifitas sehingga tepat dalam penggunaannya. Kemudian bagaimana dengan pelaksanaan asurans dan konsultansi? Kerangka Profesional Praktek Internasional (international professional practice framework – IPPF) atas Audit Internal telah menetapkan dengan jelas mengenai Independensi dan Obyektifitas.  Ketentuan pengaturan mengenai Independensi dan Obyektifitas telah dirumuskan dalam:

Kode Etik – Obyektifitas

Prinsip Dasar – Independen dan Obyektif

Standar Atribut – Independensi dan Obyektifitas.

Pengaturan penggunaan diksi Independensi dan Obyektifitas sesuai dengan pengaturan IIA berikut ini. Acuan penggunaan diksi ini adalah Standar Atribut 1100 yang menyatakan:

“The Internal Audit Activity must be independent, and Internal Auditors must be Objective  in performing their work”

Independensi

Penggunaan kata Independensi adalah melekat pada unit kerja atau organisasi yang menjalankan fungsi audit internal (internal audit activity). Dalam menjalankan kegiatannya audit internal harus independen yang berarti bebas dari keadaan dan kondisi yang dapat mengancam kemampuan unit audit internal menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pelaksanaan pekerjaan audit internal ini akan berpotensi terganggu dalam ketika berada di bawah koordinasi atau menjadi bawahan dari unit kerja yang menjadi bagian dari audit universe (semesta audit).

Semesta audit merupakan seluruh unit kerja dan/atau kegiatan dalam organisasi yang berpotensi menjadi unit kerja/kegiatan yang dapat diaudit oleh audit internal.

Dengan uraian ini maka penggunaan kata independensi akan tepat bila digunakan untuk audit internal sebagai unit kerja.

Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap moral yang harus dijalankan oleh auditor internal sebagai personil dalam menjalankan kegiatan terkait fungsi audit internal. Obyektifitas merupakan sikap yang senantiasa tidak memihak dalam kegiatan mendapatkan, menganalisis, mengevaluasi, dan melaporkan informasi terkait penugasan yang dilakukan. Obyektifitas selain berada dalam proses penugasan juga menjadi bagian dari kode etik. Pelaksanaan obyektifitas dalam kode etik antara lain:

  • Tidak menjalankan kegiatan yang dapat menurunkan atau diasumsikan menurunkan penilaian yang seharusnya tidak bias serta yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan,
  • Tidak menerima apapun yang dapat menurunkan atau diasumsikan menurunkan pertimbangan profesional sebagai auditor, dan/atau
  • Akan mengungkapkan semua fakta terkait penugasan yang diketahui yang jika tidak diungkapkan akan menimbulkan penafsiran berbeda atas aktivitas yang sedang direview.

Dengan penjelasan ini maka penjelasan penggunaan kata Independensi dan Obyektifitas menjadi jelas. Independensi adalah melekat pada unit organisasi yang melaksanakan fungsi audit internal. Sedangkan Obyektifitas melekat pada auditor atau sumber daya manusia yang sedang menjalankan tugas sebagai auditor internal.

Pada tulisan berikutnya bang Odit akan menguraikan mengenai penerapan independensi dan obyektifitas pada asurans dan pelaksanaan konsultansi.

Read more

INTERNAL AUDIT CHARTER

30 Mar 2022

Internal Audit Charter pada saat ini secara umum sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari infrastruktur kelembagaan audit internal. Pada saat ini hampir seluruh unit audit internal telah memiliki Piagam atau Charter. Keberadaan piagam ini secara mendasar merupakan ketentuan infrastruktur yang menurut The Institute of Internal Auditors (IIA) Global harus dimiliki sebagai bagian dari penyelenggaraan fungsi audit internal. IIA telah merumuskan Piagam Audit Internal dalam kelompok standar atribut.

Standar atribut yang merumuskan Piagam tercantum dalam Standar 10000. Piagam Audit Internal (Internal Audit Charter) merupakan dokumen formal yang didalamnya mendefinisikan mengenai tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab unit kerja audit internal. Piagam juga menetapkan posisi unit kerja audit internal dalam organisasi, pola hubungan antara Kepala Audit Internal dengan Direksi dan juga Dewan Komisaris, kewenangan untuk mengakses catatan, personil, dan aset yang relevan dengan penugasan, serta piagam juga mendefinisikan mengenai ruang lingkup dari fungsi audit internal.

Dalam Supplemental Guidance, IIA Global telah menetapkan sejumlah ketentuan harus ada dan tercantum dalam Piagam Audit. Isi Piagam audit internal sesuai pedoman yang dirumuskan IIA Global berikut ini.

No Ketentuan Uraian
1 Misi dan Tujuan Misi unit kerja Audit Internal dirumuskan agar sesuai dengan misi IIA.
Tujuan unit kerja Audit Internal agar sejalan dengan tujuan profesi audit internal sebagaimana dirumuskan oleh IIA.
2 Standar Profesi Audit Internal Dalam piagam dicantumkan mengenai kerangka profesi berikut dengan standar yang menjadi acuan dalam pengelolaan audit internal.
3 Kewenangan Kewenangan ditetapkan dalam Piagam antara lain berkaitan dengan:
  • Kewenangan untuk berinteraksi dengan Direksi dan Dewan Komisaris
  • Kewenangan yang diterima dari Direksi dan Dewan Komisaris untuk mengakses informasi, mengelola unit kerja audit internal, dan kewenangan untuk mendapatkan asistensi dalam hal terdapat keterbatasan kompetensi
4 Independensi dan Obyektifitas Piagam Audit Internal menegaskan posisi Independensi dan senantiasa menjaga sikap obyektifitas
5 Ruang Lingkup Penegasan mengenai ruang lingkup audit internal
6 Tanggung Jawab Dalam bagian ini ditetapkan mengenai hal-hal yang menjadi tanggung jawab audit internal
7 Program Penjagaan dan Peningkatan Kualitas Piagam juga mencantumkan ketentuan mengenai pelaksanaan program Penjagaan dan Peningkatan Kualitas

Berdasarkan uraian di atas maka Piagam Audit Internal bukan sekedar dokumen biasa melainkan dokumen strategis yang menjelaskan mengenai infrastruktur unit kerja Audit Internal sebagaimana yang ditetapkan oleh IIA.

Bagaimana dengan Piagam Audit Internal anda? PPAK dan PT Bumi Pertiwi Mandiri siap membantu Bapak Ibu dalam mereview kesesuaian Internal Audit Charter yang telah dimiliki.

#bang Odit

Read more


News

LAPORAN AUDIT INTERNAL YANG BERKUALITAS

22 Mar 2022

Laporan hasil audit merupakan muara dari rangkaian pekerjaan penugasan audit internal. Rangkaian pekerjaan yang dimulai dari perencanaan tahunan, perencanaan penugasan, dan pelaksanaan penugasan. Semua simpulan yang diperoleh selam penugasan dituangkan dalam laporan. Laporan ini menjadi media komunikasi antara auditor, penanggung jawab proses bisnis, dan pimpinan organisasi.

Melalui penyampaian laporan maka kebutuhan akan informasi dari seluruh pihak yang berkaitan dapat terpenuhi. Auditor dapat menyampaikan informasi berkaitan pelaksanaan pekerjaan asurans dan/atau konsultansi yang dilakukan. Bagi penanggung jawab proses bisnis dan/atau penanggung jawab kegiatan, laporan ini merupakan simpulan atas kualitas pengelolaan kegiatan yang dijalankan. Saat yang sama bagi pimpinan organisasi laporan yang disampaikan merupakan pemberian keyakinan yang memadai yang disampaikan oleh auditor mengenai informasi dari unit kerja dalam organisasi yang menjadi bawahannya.

Laporan hasil pekerjaan ini merupakan media komunikasi. Standar profesi audit internal yang dirumuskan oleh organisasi profesi audit internal menetapkan standar yang mengatur mengenai penyampaian laporan hasil penugasan dengan nama standar komunikasi hasil penugasan. Dalam standar ini juga dirumuskan sejumlah parameter agar laporan hasil penugasan memiliki kualitas tinggi.

The Institute of Internal Auditors (IIA) Global menetapkan agar pekerjaan asurans dan/atau konsultansi yang telah dilakukan memiliki nilai strategis dan mampu memberikan nilai tambah serta mendapat perhatian yang memadai dari penerima laporan, maka laporan ini harus disajikan dengan kualitas tertentu. Laporan hasil penugasan atau komunikasi hasil penugasan harus memiliki sejumlah parameter agar dapat mencapai kualitas tertentu. Parameter laporan yang berkualitas  antara lain akurat, obyektif, jelas, ringkas, konstruktif, lengkap, dan tepat waktu.

Akurat

Laporan yang disampaikan harus bebas dari kesalahan serta informasi yang terkandung di dalamnya tidak menimbulkan multi tafsir dan distorsi.

Seluruh fakta yang disampaikan adalah fakta yang didukung bukti, mengandung unsur kebenaran yang sangat tinggi. Kemudian pengungkapan fakta harus menyeluruh sehingga terbebas dari distorsi karena multi tafsir.

Obyektif

Komunikasi yang obyektif adalah komunikasi yang disampaikan secara wajar, tidak memihak dan tidak bias yang dihasilkan dari proses penilaian yang seimbang dari seluruh fakta yang seimbang. Salah satu bentuk obyektifitas adalah fokus pada kekurangan yang dijumpai sebagai hasil dari pekerjaan asurans.

Jelas

Komunikasi yang jelas adalah komunikasi yang mudah dipahami dan logis, dan menghindari Bahasa teknis yang tidak perlu dan menyajikan semua informasi yang relevan dan signifikan.

Penggunaan Bahasa atau istilah yang terlalu teknis akan menimbulkan potensi ketidakjelasan dan distorsi.

Ringkas

adalah komunikasi yang langsung pada pokok permasalahan dan menghindari pengulangan Bahasa termasuk informasi yang tidak perlu, tidak signifikan, atau tidak berkaitan dengan penugasan.

Konstruktif

Laporan penugasan harus konstruktif melalui perumusan rekomendasi atas kesenjangan yang teridentifikasi antara kondisi yang ideal dengan fakta yang terjadi.

Dengan saran yang bersifat kontruktif ini menjadikan laporan hasil penugasan memiliki kontribusi dalam peningkatan baik dalam tata kelola, pengelolaan risiko, dan pengendalian.

Lengkap

Informasi yang disajikan dalam laporan lengkap dan tidak terdapat kekurangan fakta yang esensial. Dengan informasi yang lengkap ini para pembaca laporan akan mendapatkan simpulan yang sama dengan yang telah disimpulkan oleh audit internal.

Tepat Waktu

Laporan ini disajikan secara tepat waktu sesuai dengan kebutuhan. Fakta yang disajikan masih relevan antara saat kejadian dengan saat pelaporan. Kemudian unsur lainnya seperti sebab, akibat, dan rekomendasi juga disampaikan secara tepat waktu sehingga tindak lanjut yang dilakukan akan terlaksana sesuai dengan kebutuhan.

Demikian parameter-parameter dari Laporan Hasil Penugasan yang memiliki kualitas yang tinggi.

Bagaimana dengan Laporan Hasil Penugasan unit kerja audit internal anda semua?

Hubungi PPAK untuk bersama melakukan lokakarya dalam peningkatan kompetensi penyusunan laporan hasil penugasan yang berkualitas.

#bang Odit

Read more

AUDITOR IDENTIK DENGAN AKUNTAN?

14 Mar 2022

Saat ini adalah masih menjadi satu fakta bahwa profesi auditor ini identik dengan akuntan. Apakah fakta ini akurat dan sesuai? Jawabannya bisa sesuai dan bisa juga tidak sepenuhnya sesuai.

Profesi auditor, khususnya auditor keuangan menjadi pendapat umum karena secara sejarah formal profesi auditor yang berkontribusi dalam perekonomian adalah keberadaan akuntan publik. Akuntan publik hadir dan menjadi bagian dalam dunia bisnis ketika terjadi problem klasik yang sampai dengan saat ini relevan yaitu problem keagenan (agency problem).

Agency problem merupakan permasalahan dalam bentuk informasi yang tidak simetris (assymetric information). Informasi yang tidak simetris terjadi ketika satu informasi tidak sepenuhnya dipercaya oleh pihak lain yang sangat terkait. Informasi yang tidak simetris dalam hal ini adalah ketika Direksi yang menerima mandat dari pemegang saham menyampaikan informasi mengenai kinerja yang berhasil dicapai kepada pemegang saham. Informasi ini dituangkan dalam Laporan keuangan yang disusun menggunakan standar akuntansi keuangan yang diterima secara umum (general accepted). Pemegang saham tidak langsung percaya dengan informasi yang diterima sehingga terjadi ketidaksesuaian atau assymetric information.

Untuk mengatasi distorsi ini maka pihak yang memiliki kompetensi dalam penyusunan laporan keuangan diminta untuk memberikan pendapat secara profesional mengenai kewajaran dari Informasi yang disajikan oleh Direksi. Hasil audit yang dilakukan secara independen, obyektif, dan kompeten oleh akuntan ini akan menjadikan informasi yang disajikan diterima semua pihak termasuk pemegang saham dan pihak pemangku kepentingan.

Fakta ini kemudian mendunia dan menjadi pendapat umum bahwa auditor itu identik dengan akuntan. Fakta ini benar dalam hal audit keuangan untuk menilai kewajaran laporan keuangan dilakukan oleh akuntan publik. Pendapat ini kemudian menjadi pendapat umum bahkan sampai ke ranah audit internal. Dalam ranah audit internal ternyata memiliki cerita yang berbeda.

Dalam konteks audit internal di dalam perusahaan/organisasi maka pendapat auditor harus akuntan tidak sepenuhnya sesuai. Berbeda dengan akuntan publik, audit internal harus memberikan asurans atau memberikan penilaian kewajaran informasi yang dihasilkan oleh seluruh unit kerja di bawah Direksi. Unit kerja di bawah direksi sangat beragam. Kompetensi akuntan sangat terbatas.

Untuk auditor internal diperlukan kompetensi yang tidak hanya berlatar belakang akuntan, namun juga dibutuhkan kompetensi dan pemahaman dan pengalaman lain yang relevan dengan proses bisnis yang harus diberikan penilaian atau asurans. Dengan ini maka selain akuntan, auditor internal juga dapat berlatar belakang lain. Kompetensi utama yang dibutuhkan oleh auditor internal adalah pemahaman akan proses bisnis perusahaan..

Oleh: Bang Odit

Read more

ASAL KATA AUDIT = MENDENGAR?

10 Feb 2022

Kata audit yang saat ini kita asosiasikan sebagai aktivitas melakukan pemeriksaan atas suatu informasi ternyata memiliki akar sejarah yang tidak berkaitan dengan aktivitas pemeriksaan. Audit berasal dari kata dalam bahasa latin yaitu “Audere” yang memiliki makna mendengar. Dengan makna ini maka secara epistimologi audit justru memiliki akar kata yang sama dengan audio atau suara. Pada saat ini rasanya tidak ada keterkaitan antara audit dengan audio.

Dari kata audere hingga kemudian membentuk kata audit merupakan sejarah yang Panjang. Mengapa audit memiliki kata dasar audere atau aktivitas mendengar yang secara umum tidak memiliki keterkaitan secara langsung. Hal ini tidak terlepas dari aktivitas audit atau evaluasi dan verifikasi secara independent dan obyektif telah berlangsung sejak jaman pra sejarah dimana bidaya tulis menulis belum menjadi bagian dari aktivitas.

Pada masa itu seorang maharaja memiliki sejumlah daerah taklukan. Masing-masing daerah taklukan ini wajib menyerahkan upeti sebagai komitmen sebagai daerah taklukan sebagai kontribusi dari penguasaan dan perlindungan yang diberikan oleh sang maharaja. Dengan belum digunakannya media tulis maka seorang raja akan memerlukan konfirmasi validitas dan akurasi dari besaran upeti yang dikirimkan dari masing-masing daerah jajahan. Untuk itu raja akan mengutus stafnya yang dipercaya untuk mencari informasi dan mengandalkan pendengaran ke masing-masing daerah kontributor upeti. Hasil pendengaran ini kemudian disampaikan ke raja dan kemudian dibandingkan dengan fakta upeti yang diterima. Kontribusi dari informan raja ini merupakan aktivitas audere yang kemudian berevolusi menjadi kata audit.

Praktik Maharaja dalam melakukan validasi besaran upeti yang diterima ini ternyata sejalan dengan kaidah audit saat ini. Kesesuaiannya antara lain dalam hal independensi dan obyektifitas. Petugas yang dikirimkan adalah petugas kepercayaan raja yang tidak memiliki keterkaitan dengan daerah jajahan sehingga hasil pendengarannya menjadi handal dan tidak terdistorsi.

Dalam perkembangan saat ini aktivitas audit sudah sangat kompleks. Saat ini penggunaan teknologi sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan aktivitas auditor. Aktivitas auditor tidak lagi hanya sekedar mendengar namun telah jauh lebih kompleks. Namun terdapat satu hal yang paling mendasar yaitu Independensi dan Obyektifitas. Kontribusi audit dan khususnya audit internal akan sangat handal jika auditor senantiasa menerapkan independensi dan obyektifitas.

Read more

PROGRAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI ATAS PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

06 Jan 2022

Indikator/Parameter penilaian dan Evaluasi atas penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN salah satu indikator atas Komitmen terhadap Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) adalah Perusahaan melaksanakan program pengendalian gratifikasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, diantaranya ditandaI dengan:

1. Perusahaan memiliki ketentuan/kebijakan tentang Pengendalian Gratifikasi

2. Perusahaan melaksanakan upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap kebijakan/ketentuan gratifikasi;

3. Perusahaan mengimplementasikan pengendalian gratifikasi.

4. Perusahaan melaksanakan program pengendalian gratifikasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Read more


News

PERAN AUDIT INTERNAL DALAM MENGHADAPI TANTANGAN RISIKO PANDEMI COVID 19

04 Jan 2022

Tanpa disadari, pandemi Covid 19 telah berdampak  terhadap keberlangsungan  berbagai sektor kehidupan seperti sektor pemerintahan, sosial ekonomi, dan bisnis. Dampak yang timbul akibat pandemi Covid 19 ini  dirasakan oleh pemerintah, perusahaan, dan juga masyarakat umum. Dalam proses bisnis, pandemi Covid 19 telah mempengaruhi kegiatan operasional yang dijalankan oleh suatu entitas perusahaan. Pandemi Covid 19 juga mendatangkan risiko  yang mungkin terjadi dalam keberlangsungan bisnis seperti risiko penurunan pendapatan dan kerugian, pengurangan produktivitas karyawan, dan penurunan investasi. Berbagai alternatif kebijakan dan terobosan perubahan dirancang untuk memastikan kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan namun juga tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan semua pihak.

Salah satu perubahan yang diterapkan akibat pandemi Covid 19 adalah perubahan sistem kerja dari yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka menjadi sistem kerja jarak jauh atau work from home.  Sistem kerja jarak jauh atau work from home secara tidak langsung telah mengubah pola kerja sebuah organisasi atau perusahaan. Semua kegiatan pekerjaan  dilakukan secara online dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk tetap memastikan aktivitas perusahaan berjalan dengan baik. Sejalan dengan hal tersebut dibutuhkan pengendalian internal yang baik untuk menjamin keberlangsungan aktivitas perusahaan di tengah kendala yang dihadapi.  Dalam hal ini, peran audit Internal sangat dibutuhkan untuk menilai berbagai risiko yang mungkin terjadi selama penerapan kebijakan baru yang diterapkan oleh suatu perusahaan. Audit Internal berperan penting dalam membantu perusahaan memahami dampak Covid 19 dan  menciptakan pengendalian internal yang efektif untuk meminimalisasi kemungkinan risiko yang dihadapi.

Pada dasarnya, risiko tidak dapat dihindari  dari aktivitas bisnis perusahaan, sehingga diperlukan manajemen risiko yang baik untuk mengatasi kemungkinan- kemungkinan buruk yang akan dihadapi. Auditor internal suatu perusahaan harus mampu menilai dampak operasional yang timbul akibat pandemi Covid 19 dan menyesuaikan rencana audit untuk tetap menjaga kelangsungan bisnis agar tujuan dan nilai perusahaan yang dikehendaki tetap tercapai. Auditor internal dintuntut untuk proaktif dan terus berperan dalam membantu perusahaan menghadapi dampak krisis akibat pandemi Covid 19. Auditor internal juga dapat memberikan masukan terkait perubahan prioritas perusahaan dan menjamin penerapan manajemen risiko yang baik di tengah pandemi Covid 19. 

Berikut beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh auditor internal dalam memberikan jaminan berkelanjutan atas suatu kegiatan operasional perusahaan selama pandemi Covid 19:

Memahami dan menilai berbagai risiko perusahaan.

Seorang auditor internal harus mampu menilai berbagai risiko langsung yang terjadi dalam perusahaan baik itu risiko yang terkait dengan tata kelola perusahaan, komunikasi, kegiatan operasional dan pelaporan. Prosedur penilaian risiko dan pemahaman audit yang baik sangat dibutuhkan untuk menjalankan pengendalian internal perusahaan. Auditor internal hendaknya dapat mengevaluasi risiko- risiko tambahan yang muncul sepeti gangguan operasional pada setiap perubahan model bisnis yang diakibatkan oleh pandemi.

Menilai manajemen krisis dan rencana kelangsungan bisnis termasuk pengaturan terhadap pemanfaatan teknologi informasi.

Auditor internal menilai apakah manajemen telah mengindentifikasi siginifikansi risiko bisnis yang muncul dan bagaimana kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Auditor internal juga harus terbiasa dengan remote auditing atau audit jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi sebaik mungkin.

Memberikan masukan terkait risiko - risiko langsung yang dihadapi perusahaan.

Auditor internal hendaknya mampu menemukan potensi kerugian yang mungkin terjadi dan mencari cara untuk menangani risiko tersebut. Auditor internal perlu melakukan analisis yang mendalam untuk dapat memberikan rekomendasi kepada manajemen perusahaan terkait langkah - langkah perbaikan yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak akibat risiko yang terjadi.

Beradaptasi dengan sistem kerja jarak jauh dengan tetap menunjukkan kinerja yang efektif.

Auditor perlu menyesuaikan diri dengan pola kerja jarak jauh dengan tetap menjaga komunikasi yang baik kepada semua pihak seperti regulator, manajemen perusahaan, dan pihak- pihak yang mendukung berlangsungnya tata kelola perusahaan  yang baik.  Auditor internal juga dapat menerapkan sistem remote auditing atau proses audit jarak jauh dimana bukti - bukti audit yang diperlukan menggunakan data elektronik. Digitalisasi metode audit seperti remote auditing perlu dirancang untuk memastikan proses audit tetap berjalan lancar dan efisien.

Memperbaharui rencana audit sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Auditor internal tidak boleh memaksakan pelaksanaan audit yang sudah tidak relevant dengan prioritas manajemen dan profil risiko yang dihadapi perusahaan. Auditor perlu memberikan konfirmasi dan informasi tentang rencana perlunya perubahan rencana audit yang sesuai dengan risiko perusahaan yang sedang dihadapi. Audit Internal juga harus berkontribusi dalam menyusun rencana audit sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi perusahaan.

Tindakan yang efektif dan tepat sasaran merupakan kunci keberhasilan  perusahaan untuk mencegah dan mengatasi risiko  yang dihadapi. Auditor internal sebagai pihak yang aktif dalam hal pengawasan dan pengendalian  juga harus memberikan dukungan penuh terhadap perusahaan untuk menjamin keberlangsungan proses bisnis dan tercapainya  tujuan  serta nilai perusahaan di tengah masa- masa sulit akibat pandemi Covid 19.

Sumber: Mazars

Read more

INDIKATOR ATAS KOMITMEN TERHADAP PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK/GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

12 Nov 2021

Berdasarkan Surat Keputusan Sekretaris Kementerian BUMN Nomor: SK-16/S.MBU/2012 tentang Indikator/Parameter penilaian dan Evaluasi atas penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN Terdapat 6 (enam) aspek pengujian/indikator atas Komitmen terhadap penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG), yaitu:

1) Perusahaan memiliki Pedoman Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG Code) dan Pedoman Perilaku (Code of Conduct) yang ditinjau dan dimutakhirkan secara berkala;

2) Perusahaan melaksanakan Pedoman Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG Code) dan Pedoman Perilaku (Code of Conduct) secara konsisten;

3) Perusahaan melakukan pengukuran terhadap penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG);

4) Perusahaan melakukan koordinasi pengelolaan dan administrasi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN);

5) Perusahaan melaksanakan program pengendalian gratifikasi sesuai ketentuan yang berlaku; 6) Perusahaan melaksanakan kebijakan atas sistem pelaporan atas dugaan penyimpangan pada perusahaan yang bersangkutan (whistle blowing system)

Read more

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) - DEFINISI, PRINSIP, TUJUAN PENERAPAN DAN ASPEK

04 Nov 2021

Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor Per-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada Badan Usaha Milik Negara mendefinisikan Tata Kelola Perusahaan yang baik/Good Corporate Governance (GCG) adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. Prinsip GCG dikenal dengan istilah TARIF yakni (Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, Fairness) 

Berdasarkan SK Sekretaris Kementerian BUMN Nomor: SK-16/S.MBU/2012 tentang Indikator/Parameter penilaian dan Evaluasi atas penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN menyatakan bahwa aspek penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN meliputi: (1) Komitmen terhadap penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) secara berkelanjutan, (2) Pemegang Saham dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)/Pemilik Modal, (3) Dewan Pengawas/Dewan komisaris, (4) Direksi, (5) Aspek Lainnya.

Tujuan penerapan GCG yaitu untuk mencapai kesinambungan usaha (sustainablity) perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan (stakeholder) . terdapat beberapa tujuan penerapan prinsip GCG sebagai berikut : 

1. Mengoptimalkan nilai BUMN agar budaya saing nasional maupun internasional sehingga keberadaan BUMN mampu berdampak signifikan terhadap kemajuan bangsa dan negara 

2. Mendorong Pengelolaan BUMN secara profesinal, efisien, efektif serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian organ Persero / organ Perum

3. Mendorong agar keputusan dan tindakan Organ Perusahaan BUMN dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan

4. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional dan meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional 

 

Read more

DISTORSI PESAN AKIBAT MISPERSEPSI DALAM KOMUNIKASI AUDIT

03 Nov 2021

Inti dari sebuah komunikasi adalah ‘penyampaian pesan’ dari komunikator kepada komunikan. Komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang disampaikan komunikator dapat diterima dan dipahami oleh komunikan. Efektivitas komunikasi bergantung pada kemampuan komunikator dan komunikan dalam menyampaikan dan mengartikan sebuah pesan. Seorang komunikator yang dipersepsikan sebagai orang yang ramah dan suka menolong, ketika bertanya ‘dimana rumah anda?’ kepada komunikan akan diartikan sebagai ajakan untuk menjalin persahabatan. Sebaliknya, jika pertanyaan ‘dimana rumah anda’ keluar dari mulut seseorang yang dipersepsikan sebagai orang yang kasar dan suka berbuat onar maka akan diartikan sebagai ancaman oleh komunikan. Jika seseorang salah mempersepsikan lawan bicara, maka akan terjadi distorsi pesan yaitu kesalahan dalam mengartikan pesan.

Salah seorang pakar komunikasi, Jalaluddin Rakhmat (2008: 98), menjelaskan bahwa kegagalan komunikasi dapat terjadi akibat dari persepsi yang salah terhadap lawan bicara. Persepsi komunikator terhadap komunikan, begitu juga sebaliknya, akan menentukan apakah pesan yang disampaikan oleh kedua belah pihak akan mengalami distorsi atau tidak. Dalam kaitannya dengan komunikasi audit, auditor cenderung dianggap sebagai pihak yang memiliki posisi yang lebih dominan dibandingkan auditee. Ketidaksetaraan tersebut akan berimplikasi terhadap cara pandang auditee terhadap auditor. Segala hal yang disampaikan oleh auditor, memiliki kemungkinan untuk dianggap sebagai sebuah ‘serangan’ oleh auditee. Jika hal ini terjadi, maka auditee akan merespon dengan sesuatu yang bersifat defensif. Ketika sebuah pemeriksaan dilakukan oleh seorang auditor level junior kepada auditee dengan jabatan tinggi dan usia yang jauh lebih tua, maka ada kemungkinan auditor akan merasakan ketidaksetaraan posisi. Jika, auditor level junior tersebut mempersepsikan auditee sebagai pihak yang lebih kuat dan dominan, maka auditor bisa saja mengartikan pesan yang disampaikan auditee sebagai sebuah intimidasi. Distorsi pesan dalam proses komunikasi pun tidak bisa dihindari.

Untuk menghindari terjadinya distorsi pesan dalam komunikasi audit, hal yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa persepsi kita terhadap orang lain mungkin salah. Komunikasi interpersonal akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru (Jalaluddin Rakhmat, 2008). Informasi tentang auditor ataupun auditee sebelum proses pemeriksaan harus dilihat sebagai informasi yang independen dan tidak perlu dinilai sebagai baik atau buruk karena mungkin saja saat proses audit, ada fakta-fakta lain yang kita temukan. Keterbukaan terhadap kemungkinan munculnya fakta yang berlawanan dengan informasi yang dimiliki sebelumnya, akan membantu kita dalam mengartikan pesan secara objektif sehingga tujuan komunikasi dapat tercapai.

Sumber:

Rakhmat, Jalaluddin. (2008). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.        

Read more


News

MENGELOLA KECEMASAN DALAM KOMUNIKASI PADA PENUGASAN AUDIT

27 Aug 2021

Tugas audit yang melibatkan entitas dan auditee yang baru dikenal bisa saja dialami oleh auditor internal. Dalam melakukan penugasan audit terhadap entitas dan auditee yang baru dikenal, auditor internal akan menunjukkan salah satu dari dua kemungkinan perasaan yaitu perasaan positif dan perasaan negatif. Perasaan positif yaitu adanya antusiasme dan perasaan senang untuk melakukan pemeriksaan terhadap entitas dan auditee yang tidak dikenal sebelumnya. Perasaan negatif yaitu rasa cemas dan khawatir karena belum memiliki informasi yang memadai tentang entitas dan auditee yang baru dikenal. Informasi yang tidak memadai tentang auditee yang baru dikenal akan membuat auditor internal kesulitan dalam memprediksi apa yang akan terjadi saat proses pemeriksaan dan bagaimana strategi yang tepat untuk menghadapinya. Kecemasan yang dialami oleh auditor internal ini akan berdampak pada komunikasi yang dilakukan selama penugasan audit seperti yang dikatakan oleh Gudykunst (2005: 285) bahwa “mengelola kecemasan dan ketidakpastian merupakan proses utama yang mempengaruhi komunikasi seseorang dengan orang yang tidak dikenal”.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh auditor internal untuk mengurangi kecemasan dalam komunikasi dengan auditee yang baru dikenal. Pertama, mencari informasi yang akurat tentang auditee sebelum pelaksanaan audit. Informasi tentang auditee dapat berupa latar belakang budaya auditee, pandangan auditor lain terkait auditee, pandangan auditee lain yang sudah dikenal tentang auditee, dan informasi lain yang relevan.  Selain itu, perlu juga untuk mencari kesamaan antara auditor dengan auditee, jika terdapat banyak keterkaitan antara auditor dan auditee, maka hal tersebut dapat menurunkan kecemasan yang dialami oleh auditor internal. Hal tersebut sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa “Peningkatan jaringan/ networks antara individu dengan orang yang tidak dikenal akan menghasilkan penurunan kecemasan dan peningkatan kemampuan individu tersebut untuk secara akurat memprediksi perilaku mereka” (Gudykunst, 2005: 302 – 303).

Kedua, komunikasi yang efektif dihasilkan dari pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian secara mindfull. Mindfullness berarti seseorang harus dapat menerima hal-hal baru dan memberikan perhatian penuh kepada proses komunikasi yang sedang berlangsung. Langer (1989) berpendapat bahwa mindfullness mencakup menciptakan kategori baru, terbuka terhadap informasi baru, dan mengenali perspektif orang asing (Gudykunst & Kim, 2003: 39-40). Keterbukaan terhadap perspektif baru dari auditee yang baru dikenal akan membantu auditor internal untuk memahami auditee secara utuh. Pemahaman yang baik terhadap auditee memudahkan auditor internal untuk menemukan gaya komunikasi yang tepat selama proses audit. Saat komunikasi telah berjalan dengan efektif, maka kecemasan yang dialami oleh auditor internal akan berangsur-angsur hilang.  

Sumber: Diana, A & Lukman, E. (2018). Pengelolaan Kecemasan dan Ketidakpastian dalam Komunikasi Antar Budaya antara Auditor dan Auditee. Jurnal Komunikasi Indonesia. VII (1), 99-108.

Read more

MEDIA PENINGKATAN KOMPETENSI PADA ERA "THE NEW NORMAL"

20 Apr 2020

Sampai dengan awal tahun 2020, Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang audit internal, audit forensik, manajemen risiko, Good Corporate Governance, Akuntansi, Keuangan dan Perpajakan secara tatap muka langsung. Peserta dan fasilitator wajib hadir secara fisik di ruang-ruang kelas yang bertempat di berbagai kota yaitu Puncak Bogor, Yogyakarta, Malang dan Bandung.

Diawali di Wuhan RRC, pandemi Covid-19 menyebar hampir ke seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Pandemi Covid-19 memberi dampak cepat dan luar biasa bagi kesehatan dan menjalar ke segenap sisi kehidupan. Untuk menghindari penyebaran Covid 19 yang lebih luas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan menjaga jarak (Physical Distancing)  lebih 1 (satu) meter dari orang lain. Penerapan ketentuan tersebut diantaranya work from home (WFH), menghindari pertemuan besar dan transportasi umum. Berkat teknologi informasi yang begitu maju, kita masih bisa tetap berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus berada dalam ruangan yang sama secara fisik.

Pada masa pascapandemi Covid-19 sebagai the new normal, diprediksi ada tren perubahan sosial, lingkungan dan bisnis. Interaksi fisik akan semakin terbatas namun interaksi digital selama masa WFH akan bertahan menjadi opsi utama dalam beraktifitas. 

Sebagai strategi untuk menghadapi kondisi saat ini dan pascapandemi Covid 19, PPA&K telah membangun portal Pembelajaran Jarak Jauh atau e-learning dengan nama PPA&K Virtual Class. Portal tersebut akan menghubungkan peserta baik dengan fasilitator maupun panitia dalam proses diklat.

Proses diklat setidaknya terdiri atas 3 (tiga) jenis aktivitas. Pertama, aktivitas diklat berupa pembahasan konsep dan diskusi studi kasus menggunakan metode komunikasi pada waktu yang telah ditentukan (real time) dengan kehadiran fasilitator dan peserta. Dengan metode tersebut diharapkan peserta dapat mengikuti waktu diklat setiap hari secara terstruktur dan adanya interaksi dengan fasilitaor dan peserta lainnya. Fasilitas yang digunakan adalah Video Conference dengan memanfaatkan diantaranya google meet/zoom/m-teams.  

Kedua, peserta melakukan pembelajaran mandiri dengan membaca atau mendengar materi diklat diantaranya adalah e-book/slide/mediavisual/audiovisual yang diterima oleh peserta. Pembelajaran mandiri tidak terikat pada jadwal yang ketat, tidak memerlukan komunikasi antara fasilitator dan peserta pada waktu yang bersamaan. Pembelajaran mandiri memerlukan motivasi dan kesungguhan dari diri sendiri.

Ketiga, peserta diberikan penugasan atau ujian atas materi diklat yang telah ditentukan waktu penyelesaiannya pada platform PPA&K Virtual Class. Aktivitas tersebut guna mengevaluasi atas capaian tujuan dan sasaran diklat.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS: Ar-Rad :11). “Tujuan dari belajar adalah terus tumbuh. Akal tidak sama dengan tubuh, akal terus bertumbuh selama kita hidup.” Mortimer J. Adler. (Filsuf Amerika)

Semoga krisis ini menjadikan kita semua terus berbenah, berubah dan bertumbuh serta lebih maju dan kuat lagi.

Read more

 

 

 

 

 

 



Request information Do you have some questions? Fill the form and get an answer!

Request information