SELAMAT DATANG DI PPA&K VIRTUAL CLASS

Media peningkatan kompetensi secara online di bidang Audit Internal, Audit Forensik, Manajemen Risiko, Good Corporate Governance, Akuntansi, Keuangan dan Perpajakan.

Materi diklat dikembangkan spesifik dan aplikatif untuk menjawab tuntutan kebutuhan saat ini dan masa depan. Model pembelajaran dirancang melibatkan serangkaian proses yang mendorong setiap peserta berbagi pengetahuan, keterampilan nilai-nilai dan pengalaman dengan dipandu oleh fasilitator yang profesional dan berpengalaman.

Daftar Diklat

No Nama Diklat Biaya Waktu Pelaksanaan
1

Diklat Dasar - Dasar Audit (Juni 2022)

IDR 6.500.000,00 06 Jun 2022 - 15 Jun 2022
2

Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit (Juni 2022)

IDR 7.000.000,00 06 Jun 2022 - 14 Jun 2022
3

Diklat Pengelolaan Tugas - Tugas Audit (Juni 2022)

IDR 10.250.000,00 06 Jun 2022 - 15 Jun 2022
4

Diklat Audit Forensik Dasar (Juni 2022)

IDR 9.250.000,00 06 Jun 2022 - 09 Jun 2022
5

Diklat Audit Forensik Lanjutan (Juni 2022)

IDR 10.250.000,00 06 Jun 2022 - 10 Jun 2022
6

Certified Governance Professional (Juni 2022)

IDR 10.800.000,00 06 Jun 2022 - 10 Jun 2022
7

Qualified Risk Management Analyst (Juni 2022)

IDR 8.100.000,00 06 Jun 2022 - 10 Jun 2022
8

Qualified Chief Risk Officer (Juni 2022)

IDR 10.300.000,00 06 Jun 2022 - 09 Jun 2022
9

Diklat Audit Teknologi Informasi (Juni 2022)

IDR 7.250.000,00 06 Jun 2022 - 10 Jun 2022
10

Diklat Audit SDM (Juni 2022)

IDR 5.750.000,00 06 Jun 2022 - 08 Jun 2022
11

Diklat Penerapan PSAK 72 dan Dampak Perpajakannya (Juni 2022)

IDR 4.000.000,00 06 Jun 2022 - 09 Jun 2022

News

RAGAM KONSULTASI DALAM AUDIT INTERNAL

18 Apr 2022

Auditor Internal sesuai dengan definisinya pada saat ini melaksanakan dua kegiatan utama yaitu melakukan kegiatan assurance dan kegiatan konsultasi. Melalui dua kegiatan ini, auditor internal akan memberikan nilai tambah serta peningkatan dan perbaikan dalam operasional kegiatan perusahaan. Kegiatan assurance secara umum telah dimengerti dan diselenggarakan oleh unit kerja audit internal. Sementara itu tidak sedikit audit internal yang memerlukan penjelasan mengenai bentuk dan penyelenggaraan kegiatan konsultasi. Pada artikel ini akan disajikan mengenai segala hal mengenai Konsultasi.

Kegiatan konsultasi adalah aktivitas pemberian saran (advis) bagi klien atau unit kerja, dimana sifat dan ruang lingkup kegiatannya berdasarkan kesepakatan bersama antara auditor sebagai konsultan dan unit kerja dan/atau proses sebagai klien atau mitra, yang dimaksudkan untuk memberikan nilai tambah dan peningkatan dalam tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian tanpa auditor internal dipersepsikan menjadi penanggung jawab dari kegiatan. Inisiatif atas terselenggaranya kegiatan konsultasi ini dapat berasal dari auditor internal maupun dari unit kerja.

Kegiatan asurans dan konsultasi memiliki persamaan dan perbedaan.

Persamaan kedua kegiatan yang merupakan kontribusi dari unit kerja audit internal adalah memberikan nilai tambah dan peningkatan dalam kegiatan operasional. Kemudian semua kontribusi audit internal ini membantu organisasi mencapai tujuan melalui evaluasi dan peningkatan dalam pengelolaan risiko, pengendalian, dan tata kelola.

Hal yang membedakan antara asurans dengan konsultasi berikut ini:

  1. Para pihak yang terkait dengan kegiatan penugasan
    Dalam kegiatan asurans para pihak yang terkait penugasan ada tiga yaitu auditor internal sebagai pemberi asurans, Pimpinan organisasi sebagai pihak yang diberikan keyakinan oleh auditor, dan Unit kerja sebagai pihak yang direview.
    Dalam kegiatan konsultasi secara umum kegiatan terselenggara antara dua pihak yaitu pihak auditor sebagai konsultan dan pihak unit kerja sebagai klien.

  2. Penetapan tujuan dan ruang lingkup
    Dalam kegiatan asurans tujuan dan ruang lingkup kegiatan penugasan merupakan kewenangan auditor internal.
    Sedangkan dalam kegiatan konsultasi tujuan dan ruang lingkup merupakan kesepakatan kedua belah pihak yaitu konsultan dengan klien.

Kegiatan konsultasi sangat cair dan dapat beragam jenis bentuk pelaksanaannya. Bentuk kegiatan konsultasi adalah untuk memenuhi kebutuhan manajemen. Dan upaya pemenuhan kebutuhan manajemen atau unit kerja ini dapat terselenggara dalam berbagai bentuk baik kegiatan formal maupun kegiatan yang informal. Auditor Internal harus merespon semua permintaan kebutuhan manajemen ini baik secara formal maupun informal. Selain itu kegiatan konsultasi juga dapat terselenggara dengan auditor internal sebagai inisiatornya.

Ragam kegiatan konsultasi antara lain: 1) Pemberian saran dan masukan (advisory); 2) Peningkatan kompetensi melalui pemberian kegiatan pelatihan (training); dan 3) Bersama unit kerja melaksanakan suatu aktivitas sehingga aktivitas tersebut menjadi sesuai melalui fasilitasi.

  1. Pemberian saran dan masukan (advisory)
    Pada umumnya kegiatan konsultasi berupa pemberian masukan atau saran (advis). Inisiator kegiatan ini dapat dari audit internal sebagai konsultan maupun dari unit kerja atau klien.
    Unit kerja membutuhkan masukan dan saran dalam hal terdapat kebutuhan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi atas proses bisnis dan kegiatan tertentu. Ragam kegiatan konsultasi antara lain:
    • Permintaan saran dalam proses desain pengendalian atas suatu kegiatan unit kerja agar pengendaliannya efektif dan efisien,
    • Permintaan saran dalam pengembangan kebijakan dan prosedur unit kerja
    • Berpartisipasi dalam pemberian saran atas kegiatan proyek yang beresiko tinggi
    • Pemberian saran dalam hal terdapat permasalahan dalam pengamanan dan keberlangsungan kegiatan, dan
    • Pemberian saran dalam peningkatan kegiatan pengelolaan risiko organisasi.

    Konsultan dapat juga berinisiatif memberikan saran (advis) dalam hal auditor mendapatkan informasi yang berpotensi berpengaruh pada kegiatan unit kerja. Informasi ini bisa berbentuk regulasi baru, teknologi baru, perkembangan baru, risiko baru, dan berbagai hal lainnya.
  2. Peningkatan kompetensi melalui kegiatan pelatihan (training)
    Kegiatan konsultasi berikutnya adalah penyelenggaraan kegiatan pelatihan. Audit internal dengan pengalamannya selama ini memiliki berbagai pengetahuan termasuk yang spesifik termasuk pengetahuan yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan unit kerja. Bentuk pengetahuan antara lain pemahaman atas regulasi, penilaian dan pengelolaan risiko, serta berbagai aspek pengetahuan lainnya. Dan kemudian auditor internal sebagai konsultan memberikan edukasi melalui kegiatan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan dan peningkatan kompetensi dari unit kerja.
    Inisiator kegiatan pelatihan dapat melalui auditor dan juga unit kerja. Tema dan content pelatihan merupakan kesepakatan kedua belah pihak.
  3. Fasilitasi suatu kegiatan
    Kegiatan konsultasi berupa fasilitasi terlaksana dimana auditor bersama klien menjalankan kegiatan. Dengan kontribusi auditor melalui fasilitasi menjadikan kegiatan lebih baik dan lebih berkualitas. Berbagai jenis kegiatan yang umumnya dapat difasilitasi oleh auditor antara lain:
    • Fasilitasi pelaksanaan kegiatan penilaian risiko
    • Fasilitasi penilaian mandiri atas pengendalian
    • Fasilitasi dalam pekerjaan re-desain pengendalian dan juga kebijakan dan prosedur
    • Sebagai penghubung (liaison) antara manajemen dengan pihak eksternal seperti akuntan publik, pemerintah, dan mitra lain dalam pelaksanaan kegiatan tertentu
    • Melakukan fasilitasi dalam melakukan analisis dan investigasi pasca adanya kejadian yang berdampak signifikan karena kegiatan yang terhenti.

Semua informasi di atas merupakan ragam kegiatan terkait konsultasi. Semua kegiatan ini hendaknya terdokumentasi oleh unit kerja audit internal sebagai bentuk pelaksanaan kegiatan konsultasi terutama kegiatan yang belum tercantum dalam program kerja tahunan.

Read more

ASURANS, KONSULTASI, INDEPENDENSI, DAN OBYEKTIFITAS

12 Apr 2022

Lanjutan: Memposisikan Independensi dan Obyektifitas dengan Benar

Pada tahun 1999, The Institute of Internal Auditors (IIA) Global telah merumuskan aktivitas atau kegiatan audit internal secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu asurans dan konsultasi. Kegiatan audit internal didefinisikan sebagai aktivitas asurans dan konsultasi yang independen dan obyektif yang didesain untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi. Dari definisi tersebut maka penyelenggaraan kegiatan asurans dan konsultasi akan efektif bila diselenggarakan secara independent dan obyektif.

Pada tulisan sebelumnya Bang Odit telah menyampaikan definisi dan positioning dari independen dan obyektif. Dan pada artikel ini akan disampaikan mengenai penerapan kedua hal ini khususnya dalam kegiatan asurans dan konsultasi. Independensi secara langsung tidak memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan asurans dan konsultasi karena berkaitan dengan positioning unit kerja audit internal dalam organisasi.

Kegiatan Asurans merupakan suatu proses pemeriksaan bukti secara obyektif dengan tujuan untuk memberikan penilaian yang independen atas tata kelola, manajemen risiko, dan proses pengendalian (GRC – governance, risk management, and control) dalam organisasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan dan tanggung jawab utama unit kerja audit internal dalam organisasi yaitu memberikan penilaian atas kesesuaian GRC dengan kriteria yang ideal untuk kemudian memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) kepada pihak yang berkaitan. Pelaksanaan kegiatan asurans sangat memerlukan posisi auditor yang obyektif. Dengan posisi auditor yang obyektif maka auditor tidak berada dalam konflik kepentingan dan hasil pelaksanaan kegiatan asurans dapat disajikan dengan keyakinan yang memadai dan tanpa keraguan.

Sedangkan kegiatan konsultasi adalah kegiatan pemberian saran atau advisory yang bentuk dan ruang lingkupnya disepakati bersama antara unit audit internal (sebagai konsultan) dengan unit kerja atau fungsi (sebagai klien) yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dan peningkatan terkait GRC tanpa menjadikan audit internal sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut. Kegiatan konsultasi ini dapat berbentuk pemberian saran atau nasihat, masukan, sebagai fasilitator, dan/atau melalui pelatihan. Kontribusi auditor internal dalam kegiatan konsultasi berpotensi dapat menurunkan nilai obyektifitas. Auditor internal harus berhati-hati dalam menjaga obyektifitas ini.

Penurunan Nilai Dalam Independensi dan Obyektifitas

Penurunan Nilai Independensi

Independensi akan mengalami permasalahan berbentuk penurunan dalam hal terdapat perubahan struktur organisasi. Independensi tercermin dari Unit Kerja Audit Internal secara struktur organisasi bertanggung jawab kepada Board of Directors atau dalam sistem korporasi Indonesia bertanggung jawab kepada Direksi dan juga Dewan Komisaris. Atasan langsung Audit Internal dalam Direksi pada umumnya adalah Direktur Utama. Independensi akan menurun nilainya jika Audit Internal bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Kerja yang menjadi bagian dari Audit Universe yang merupakan Potensial Auditable Unit.

Penurunan Nilai Obyektifitas

Obyektifitas yang menjadi bagian integral dalam pelaksanaan kegiatan audit internal. Penurunan nilai akan terjadi atau diduga terjadi dalam hal:

Auditor sebelumnya menjadi bagian dari unit kerja yang akan menjadi obyek kegiatan asurans untuk kurun waktu satu tahun sebelumnya atau sesuai dengan ruang lingkup periode yang diaudit

Terdapat kedekatan personal yang relative dekat antara auditor dengan pimpinan atau penanggung jawab unit kerja yang akan di audit

Auditor internal terlalu cepat mengambil simpulan tanpa bukti yang memadai bahwa unit kerja yang diaudit telah efektif melakukan mitigasi risiko pada unit kerjanya

Auditor internal melakukan perubahan program kerja audit atau modifikasi hasil penugasan tanpa alasan dan bukti yang mendukung dan memadai.

Keterkaitan Penugasan Asurans, Konsultasi, dan Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap yang harus dipelihara oleh auditor dalam pelaksanaan penugasan khususnya pelaksanaan penugasan asurans. Sikap ini melekat dalam diri auditor internal. Untuk itu terdapat pengaturan untuk menjaga obyektifitas berikut ini.

Obyektifitas tidak akan terganggu dalam hal auditor melaksanakan tugas konsultasi setelah sebelumnya melakukan asurans.

Pimpinan unit kerja auditor internal harus berhati-hati dalam hal menugaskan auditor untuk melakukan kegiatan asurans setelah yang bersangkutan sebelumnya melakukan kegiatan konsultasi.

Kegiatan konsultasi sangat beragam dan untuk itu auditor internal harus melakukan kajian terkait adanya potensi pelemahan dalam obyektifitas.

Penegakan obyektifitas merupakan syarat utama dalam pelaksanan penugasan asurans sehingga hasil penugasannya akan efektif dan berkualitas.

Lanjutan: Memposisikan Independensi dan Obyektifitas dengan Benar

Pada tahun 1999, The Institute of Internal Auditors (IIA) Global telah merumuskan aktivitas atau kegiatan audit internal secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu asurans dan konsultasi. Kegiatan audit internal didefinisikan sebagai aktivitas asurans dan konsultasi yang independen dan obyektif yang didesain untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi. Dari definisi tersebut maka penyelenggaraan kegiatan asurans dan konsultasi akan efektif bila diselenggarakan secara independent dan obyektif.

Pada tulisan sebelumnya Bang Odit telah menyampaikan definisi dan positioning dari independen dan obyektif. Dan pada artikel ini akan disampaikan mengenai penerapan kedua hal ini khususnya dalam kegiatan asurans dan konsultasi. Independensi secara langsung tidak memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan asurans dan konsultasi karena berkaitan dengan positioning unit kerja audit internal dalam organisasi.

Kegiatan Asurans merupakan suatu proses pemeriksaan bukti secara obyektif dengan tujuan untuk memberikan penilaian yang independen atas tata kelola, manajemen risiko, dan proses pengendalian (GRC – governance, risk management, and control) dalam organisasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan dan tanggung jawab utama unit kerja audit internal dalam organisasi yaitu memberikan penilaian atas kesesuaian GRC dengan kriteria yang ideal untuk kemudian memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) kepada pihak yang berkaitan. Pelaksanaan kegiatan asurans sangat memerlukan posisi auditor yang obyektif. Dengan posisi auditor yang obyektif maka auditor tidak berada dalam konflik kepentingan dan hasil pelaksanaan kegiatan asurans dapat disajikan dengan keyakinan yang memadai dan tanpa keraguan.

Sedangkan kegiatan konsultasi adalah kegiatan pemberian saran atau advisory yang bentuk dan ruang lingkupnya disepakati bersama antara unit audit internal (sebagai konsultan) dengan unit kerja atau fungsi (sebagai klien) yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dan peningkatan terkait GRC tanpa menjadikan audit internal sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut. Kegiatan konsultasi ini dapat berbentuk pemberian saran atau nasihat, masukan, sebagai fasilitator, dan/atau melalui pelatihan. Kontribusi auditor internal dalam kegiatan konsultasi berpotensi dapat menurunkan nilai obyektifitas. Auditor internal harus berhati-hati dalam menjaga obyektifitas ini.

Penurunan Nilai Dalam Independensi dan Obyektifitas

Penurunan Nilai Independensi

Independensi akan mengalami permasalahan berbentuk penurunan dalam hal terdapat perubahan struktur organisasi. Independensi tercermin dari Unit Kerja Audit Internal secara struktur organisasi bertanggung jawab kepada Board of Directors atau dalam sistem korporasi Indonesia bertanggung jawab kepada Direksi dan juga Dewan Komisaris. Atasan langsung Audit Internal dalam Direksi pada umumnya adalah Direktur Utama. Independensi akan menurun nilainya jika Audit Internal bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Kerja yang menjadi bagian dari Audit Universe yang merupakan Potensial Auditable Unit.

Penurunan Nilai Obyektifitas

Obyektifitas yang menjadi bagian integral dalam pelaksanaan kegiatan audit internal. Penurunan nilai akan terjadi atau diduga terjadi dalam hal:

  • Auditor sebelumnya menjadi bagian dari unit kerja yang akan menjadi obyek kegiatan asurans untuk kurun waktu satu tahun sebelumnya atau sesuai dengan ruang lingkup periode yang diaudit
  • Terdapat kedekatan personal yang relative dekat antara auditor dengan pimpinan atau penanggung jawab unit kerja yang akan di audit
  • Auditor internal terlalu cepat mengambil simpulan tanpa bukti yang memadai bahwa unit kerja yang diaudit telah efektif melakukan mitigasi risiko pada unit kerjanya
  • Auditor internal melakukan perubahan program kerja audit atau modifikasi hasil penugasan tanpa alasan dan bukti yang mendukung dan memadai.

Keterkaitan Penugasan Asurans, Konsultasi, dan Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap yang harus dipelihara oleh auditor dalam pelaksanaan penugasan khususnya pelaksanaan penugasan asurans. Sikap ini melekat dalam diri auditor internal. Untuk itu terdapat pengaturan untuk menjaga obyektifitas berikut ini.

  1. Obyektifitas tidak akan terganggu dalam hal auditor melaksanakan tugas konsultasi setelah sebelumnya melakukan asurans.
  2. Pimpinan unit kerja auditor internal harus berhati-hati dalam hal menugaskan auditor untuk melakukan kegiatan asurans setelah yang bersangkutan sebelumnya melakukan kegiatan konsultasi
  3. Kegiatan konsultasi sangat beragam dan untuk itu auditor internal harus melakukan kajian terkait adanya potensi pelemahan dalam obyektifitas.

Penegakan obyektifitas merupakan syarat utama dalam pelaksanan penugasan asurans sehingga hasil penugasannya akan efektif dan berkualitas.

Read more

MEMPOSISIKAN INDEPENDENSI DAN OBYEKTIFITAS DENGAN BENAR

04 Apr 2022

Fungsi Audit Internal sering kali menyebut dirinya baik sebagai unit kerja dan juga auditornya harus senantiasa menjaga independen dan obyektifitas. Kedua istilah ini sering kali digunakan baik secara bersamaan maupun secara parsial yang pada umumnya untuk menyampaikan pesan pentingnya auditor internal untuk menjaga jarak dan tidak terlibat dalam kegiatan operasional unit kerja dalam organisasi. Atas nama Independensi dan obyektifitas juga sering kali auditor internal harus menahan diri untuk tidak terlibat dalam mendukung dan membantu unit kerja lain ketika membutuhkan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman teknis dari auditor internal.

Bagaimana IIA Global menetapkan pengaturan mengenai independensi dan obyektifitas sehingga tepat dalam penggunaannya. Kemudian bagaimana dengan pelaksanaan asurans dan konsultansi? Kerangka Profesional Praktek Internasional (international professional practice framework – IPPF) atas Audit Internal telah menetapkan dengan jelas mengenai Independensi dan Obyektifitas.  Ketentuan pengaturan mengenai Independensi dan Obyektifitas telah dirumuskan dalam:

Kode Etik – Obyektifitas

Prinsip Dasar – Independen dan Obyektif

Standar Atribut – Independensi dan Obyektifitas.

Pengaturan penggunaan diksi Independensi dan Obyektifitas sesuai dengan pengaturan IIA berikut ini. Acuan penggunaan diksi ini adalah Standar Atribut 1100 yang menyatakan:

“The Internal Audit Activity must be independent, and Internal Auditors must be Objective  in performing their work”

Independensi

Penggunaan kata Independensi adalah melekat pada unit kerja atau organisasi yang menjalankan fungsi audit internal (internal audit activity). Dalam menjalankan kegiatannya audit internal harus independen yang berarti bebas dari keadaan dan kondisi yang dapat mengancam kemampuan unit audit internal menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pelaksanaan pekerjaan audit internal ini akan berpotensi terganggu dalam ketika berada di bawah koordinasi atau menjadi bawahan dari unit kerja yang menjadi bagian dari audit universe (semesta audit).

Semesta audit merupakan seluruh unit kerja dan/atau kegiatan dalam organisasi yang berpotensi menjadi unit kerja/kegiatan yang dapat diaudit oleh audit internal.

Dengan uraian ini maka penggunaan kata independensi akan tepat bila digunakan untuk audit internal sebagai unit kerja.

Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap moral yang harus dijalankan oleh auditor internal sebagai personil dalam menjalankan kegiatan terkait fungsi audit internal. Obyektifitas merupakan sikap yang senantiasa tidak memihak dalam kegiatan mendapatkan, menganalisis, mengevaluasi, dan melaporkan informasi terkait penugasan yang dilakukan. Obyektifitas selain berada dalam proses penugasan juga menjadi bagian dari kode etik. Pelaksanaan obyektifitas dalam kode etik antara lain:

  • Tidak menjalankan kegiatan yang dapat menurunkan atau diasumsikan menurunkan penilaian yang seharusnya tidak bias serta yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan,
  • Tidak menerima apapun yang dapat menurunkan atau diasumsikan menurunkan pertimbangan profesional sebagai auditor, dan/atau
  • Akan mengungkapkan semua fakta terkait penugasan yang diketahui yang jika tidak diungkapkan akan menimbulkan penafsiran berbeda atas aktivitas yang sedang direview.

Dengan penjelasan ini maka penjelasan penggunaan kata Independensi dan Obyektifitas menjadi jelas. Independensi adalah melekat pada unit organisasi yang melaksanakan fungsi audit internal. Sedangkan Obyektifitas melekat pada auditor atau sumber daya manusia yang sedang menjalankan tugas sebagai auditor internal.

Pada tulisan berikutnya bang Odit akan menguraikan mengenai penerapan independensi dan obyektifitas pada asurans dan pelaksanaan konsultansi.

Read more

INTERNAL AUDIT CHARTER

30 Mar 2022

Internal Audit Charter pada saat ini secara umum sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari infrastruktur kelembagaan audit internal. Pada saat ini hampir seluruh unit audit internal telah memiliki Piagam atau Charter. Keberadaan piagam ini secara mendasar merupakan ketentuan infrastruktur yang menurut The Institute of Internal Auditors (IIA) Global harus dimiliki sebagai bagian dari penyelenggaraan fungsi audit internal. IIA telah merumuskan Piagam Audit Internal dalam kelompok standar atribut.

Standar atribut yang merumuskan Piagam tercantum dalam Standar 10000. Piagam Audit Internal (Internal Audit Charter) merupakan dokumen formal yang didalamnya mendefinisikan mengenai tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab unit kerja audit internal. Piagam juga menetapkan posisi unit kerja audit internal dalam organisasi, pola hubungan antara Kepala Audit Internal dengan Direksi dan juga Dewan Komisaris, kewenangan untuk mengakses catatan, personil, dan aset yang relevan dengan penugasan, serta piagam juga mendefinisikan mengenai ruang lingkup dari fungsi audit internal.

Dalam Supplemental Guidance, IIA Global telah menetapkan sejumlah ketentuan harus ada dan tercantum dalam Piagam Audit. Isi Piagam audit internal sesuai pedoman yang dirumuskan IIA Global berikut ini.

No Ketentuan Uraian
1 Misi dan Tujuan Misi unit kerja Audit Internal dirumuskan agar sesuai dengan misi IIA.
Tujuan unit kerja Audit Internal agar sejalan dengan tujuan profesi audit internal sebagaimana dirumuskan oleh IIA.
2 Standar Profesi Audit Internal Dalam piagam dicantumkan mengenai kerangka profesi berikut dengan standar yang menjadi acuan dalam pengelolaan audit internal.
3 Kewenangan Kewenangan ditetapkan dalam Piagam antara lain berkaitan dengan:
  • Kewenangan untuk berinteraksi dengan Direksi dan Dewan Komisaris
  • Kewenangan yang diterima dari Direksi dan Dewan Komisaris untuk mengakses informasi, mengelola unit kerja audit internal, dan kewenangan untuk mendapatkan asistensi dalam hal terdapat keterbatasan kompetensi
4 Independensi dan Obyektifitas Piagam Audit Internal menegaskan posisi Independensi dan senantiasa menjaga sikap obyektifitas
5 Ruang Lingkup Penegasan mengenai ruang lingkup audit internal
6 Tanggung Jawab Dalam bagian ini ditetapkan mengenai hal-hal yang menjadi tanggung jawab audit internal
7 Program Penjagaan dan Peningkatan Kualitas Piagam juga mencantumkan ketentuan mengenai pelaksanaan program Penjagaan dan Peningkatan Kualitas

Berdasarkan uraian di atas maka Piagam Audit Internal bukan sekedar dokumen biasa melainkan dokumen strategis yang menjelaskan mengenai infrastruktur unit kerja Audit Internal sebagaimana yang ditetapkan oleh IIA.

Bagaimana dengan Piagam Audit Internal anda? PPAK dan PT Bumi Pertiwi Mandiri siap membantu Bapak Ibu dalam mereview kesesuaian Internal Audit Charter yang telah dimiliki.

#bang Odit

Read more
Request information Do you have some questions? Fill the form and get an answer!

Request information